Konsumen RI Optimistis
Sabtu, 28 November 2020 - 08:36 WIB
loading...
A
A
A
Resesi yang diakibatkan oleh Covid-19 rupanya berdampak pada kondisi keuangan konsumen. Untuk mengetahui kondisi keuangan konsumen ini saya mencoba meninjaunya dari empat pilar keuangan rumah tangga yaitu: pendapatan (income), pengeluaran (spending), tabungan (saving), dan investasi (investing).
Pertanyaannya, bagaimana kondisi income, spending, saving, dan investing keluarga Indonesia di masa pandemi? Pertama-tama adalah pendapatan. Dengan adanya lay off dan ekonomi yang sulit, wajar jika pendapatan keluarga mengalami penurunan. Dari seluruh responden yang saya survei, sekitar 67,6% mengatakan bahwa pendapatan mereka cenderung berkurang selama pandemi.
Dari sisi pengeluran, komposisinya secara umum berimbang antara pengeluaran mereka turun, sama saja, dan naik selama pandemi. Angkanya berkisar 30% terbagi merata antara mereka yang mengatakan naik, sama saja, dan mengalami penurunan. (Baca juga: Fungsi Minyak Zaitun untuk Kesehatan)
Menariknya, kalau di awal-awal pandemi lalu jumlah tabungan masyarakat cenderung meningkat karena mereka menekan pengeluaran untuk ditabung sebagai dana cadangan menghadapi ketidakmenentuan ekonomi. Namun setelah krisis berjalan 6-7 bulan mereka mulai mengatakan bahwa jumlah tabungan dan investasi mereka mulai menurun. Angkanya cukup besar masing-masing: 49% dan 58%.
Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh krisis pandemi di akhir-akhir tahun 2020 ini semakin dalam dan dirasakan masyarakat. Menurunya jumlah tabungan ini mengindikasikan bahwa setelah krisis berjalan cukup lama, mereka mulai "makan tabungan". Artinya, ketika pendapatan tak bisa diharapkan, maka terpaksa mereka mulai mengambil uang tabungan untuk menutupi pengeluaran yang ada.
Namun menariknya lagi, meskipun pendapatan masyarakat Indonesia mengalami penurunan, namun mereka tetap optimistis mengenai prospek pemulihan ekonomi. Ini tentu saja merupakan pertanda positif. (Baca juga: Gaji PNS ke Depan: Selamat Tinggal Pangkat dan Golongan)
Pertanyaannya, bagaimana kondisi income, spending, saving, dan investing keluarga Indonesia di masa pandemi? Pertama-tama adalah pendapatan. Dengan adanya lay off dan ekonomi yang sulit, wajar jika pendapatan keluarga mengalami penurunan. Dari seluruh responden yang saya survei, sekitar 67,6% mengatakan bahwa pendapatan mereka cenderung berkurang selama pandemi.
Dari sisi pengeluran, komposisinya secara umum berimbang antara pengeluaran mereka turun, sama saja, dan naik selama pandemi. Angkanya berkisar 30% terbagi merata antara mereka yang mengatakan naik, sama saja, dan mengalami penurunan. (Baca juga: Fungsi Minyak Zaitun untuk Kesehatan)
Menariknya, kalau di awal-awal pandemi lalu jumlah tabungan masyarakat cenderung meningkat karena mereka menekan pengeluaran untuk ditabung sebagai dana cadangan menghadapi ketidakmenentuan ekonomi. Namun setelah krisis berjalan 6-7 bulan mereka mulai mengatakan bahwa jumlah tabungan dan investasi mereka mulai menurun. Angkanya cukup besar masing-masing: 49% dan 58%.
Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh krisis pandemi di akhir-akhir tahun 2020 ini semakin dalam dan dirasakan masyarakat. Menurunya jumlah tabungan ini mengindikasikan bahwa setelah krisis berjalan cukup lama, mereka mulai "makan tabungan". Artinya, ketika pendapatan tak bisa diharapkan, maka terpaksa mereka mulai mengambil uang tabungan untuk menutupi pengeluaran yang ada.
Namun menariknya lagi, meskipun pendapatan masyarakat Indonesia mengalami penurunan, namun mereka tetap optimistis mengenai prospek pemulihan ekonomi. Ini tentu saja merupakan pertanda positif. (Baca juga: Gaji PNS ke Depan: Selamat Tinggal Pangkat dan Golongan)
Lihat Juga :