Kang Emil Antisipasi Krisis Pangan, Jangan Ada Lagi Petani Sulit dapat Pinjaman Bank
Jum'at, 11 Desember 2020 - 01:14 WIB
loading...
A
A
A
Sehingga tambah dia, tidak mengherankan jika petani menjadi sasaran empuk para rentenir. "Padahal bagi mereka besaran bunga enggak masalah. Yang jadi masalah kemudahan aksesnya," kata dia.
Menurut dia, rendahnya produktivitas pangan di Jabar salah satunya karena semakin sedikitnya jumlah petani. Menurut dia, saat ini 75% petani sudah berusia di atas 45 tahun. Sementara anak-anak muda tidak ingin menjadi petani.
Oleh karenanya, pihaknya menggagas program 1.000 petani milenial untuk menumbuhkan minat bertani di kalangan anak muda. Nantinya, petani muda akan diberi lahan untuk digarap menjadi kawasan pertanian. Lahan yang tidak terpakai milik pemda, akan dipinjamkan kepada petani milenial 1 hektare per orang
Sementara itu, Kepala Kantor Bank Indonesia Jawa Barat Herawanto mengatakan, potensi krisis pangan global meningkat akibat perubahan kondisi makroekonomi, lingkungan, energi, harga input, serta harga pasar. Kondisi itu mempengaruhi jumlah produksi pangan global, ditambah dengan kendala distribusi akibat kebijakan pembatasan dalam rangka pengendalian pandemi.
"Sektor pertanian penting sebagai salah satu sektor ekonomi yang diprioritaskan untuk segera dipulihkan karena merupakan penyumbang ekonomi terbesar ke-3 di Jawa Barat setelah industri pengolahan dan perdagangan. Di mana, sektor tersebut menunjukkan trend pertumbuhan meningkat," beber dia.
Menurut dia, rendahnya produktivitas pangan di Jabar salah satunya karena semakin sedikitnya jumlah petani. Menurut dia, saat ini 75% petani sudah berusia di atas 45 tahun. Sementara anak-anak muda tidak ingin menjadi petani.
Oleh karenanya, pihaknya menggagas program 1.000 petani milenial untuk menumbuhkan minat bertani di kalangan anak muda. Nantinya, petani muda akan diberi lahan untuk digarap menjadi kawasan pertanian. Lahan yang tidak terpakai milik pemda, akan dipinjamkan kepada petani milenial 1 hektare per orang
Sementara itu, Kepala Kantor Bank Indonesia Jawa Barat Herawanto mengatakan, potensi krisis pangan global meningkat akibat perubahan kondisi makroekonomi, lingkungan, energi, harga input, serta harga pasar. Kondisi itu mempengaruhi jumlah produksi pangan global, ditambah dengan kendala distribusi akibat kebijakan pembatasan dalam rangka pengendalian pandemi.
"Sektor pertanian penting sebagai salah satu sektor ekonomi yang diprioritaskan untuk segera dipulihkan karena merupakan penyumbang ekonomi terbesar ke-3 di Jawa Barat setelah industri pengolahan dan perdagangan. Di mana, sektor tersebut menunjukkan trend pertumbuhan meningkat," beber dia.
Lihat Juga :