Tiga Dekade Berkiprah: Pandemi Tak Membendung JNE Mendulang Untung

loading...
Tiga Dekade Berkiprah: Pandemi Tak Membendung JNE Mendulang Untung
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Dua laki-laki memarkir motornya di depan Agen JNE Ragajaya, Citayam, Kabupaten Bogor, pada 11 Desember lalu. Keduanya membawa paket yang sudah dibungkus rapi dengan kardus yang dilapisi plastik hitam. Sore itu, para pengirim barang datang silih berganti ke agen tersebut. Pemilik Agen JNE itu, Hasanudin, mengatakan mayoritas barang yang dikirim ke wilayah Jabodetabek.

Pandemi Covid-19 tak membuat jasa pengiriman barang menurun, malah sebaliknya. Hasan, sapaan akrabnya, menerangkan setiap hari menerima sekitar 600 paket untuk dikirim ke berbagai kota di Indonesia. Pandemi yang mengubah kebiasaan orang pun mempengaruhi jenis barang yang dikirim dan kebiasaan dalam berbelanja. “Di sini banyak yang main (usaha) tanaman. Setiap hari jumlahnya mencapai 40% dari keseluruhan,” ujarnya kepada SINDOnews, Kamis (24/12/2020). ( Baca juga:Pimpinan DPR Ajak Masyarakat Berdoa dan Berusaha agar 2021 Normal Lagi )

Hasan menceritakan telah menjadi agen JNE sejak tahun 2017. Sebelum menjadi agen, dia merupakan pedagang daring untuk produk kecantikan. Merasakan tingginya pengiriman dan melihat toko daring berkembang, dirinya memberanikan diri menjadi Agen JNE. “Waktu itu ada dua pilihan, JNE dan yang lainnya. Setelah melihat fee, saya cenderung ke JNE karena yang lain banyak potongan untuk marketplace (lokapasar),” tuturnya.

Setiap pengiriman barang dengan jenis regular per kilogram (kg), agen memperoleh keuntungan 22%. Tanpa pikir panjang dan riset, dia niatkan untuk membuka agen JNE di wilayah Citayam. Delapan bulan pertama, Hasan masih merugi karena keuntungan belum menutup operasional. Tahun berikutnya, agennya makin banyak dikenal dan konsumen terus bertambah.



“Berangkat setahun, aku sudah bisa gaji karyawan. Tahun berikutnya sudah lumayan, ada masuk Rp1-2 juta ke kantong dan rumah. Tahun ketiga, aku memilih berhenti dari tempat bekerja. Tadinya, bekerja di hotel dan 2019 fokus mengelola JNE. Sejak Covid-19 mulai terasa melonjak,” jelasnya.

Kini, Hasan mempunyai empat karyawan. Tiga orang bekerja di toko untuk melayani konsumen dan merapikan barang kiriman. Satu orang khusus menjemput barang pelanggan yang biasa mengirim dalam jumlah banyak. Pelanggan jenis ini biasa para penjual di lokapasar. Sejak pandemi dan pemerintah menerapkan pembatasan aktivitas, penjualan daring cukup tinggi sehingga berdampak pada bisnis jasa pengiriman barang.

Hal itu terkonfirmasi dari data Bank Indonesia (BI). BI mengungkapkan transaksi harian di e-niaga mencapai 4,8 juta pada April 2020. Itu merupakan masa awal virus Sars Cov-II masuk ke Indonesia dan pemerintah melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Jumlah ini meningkat 1,7 juta jika dibandingkan dengan transaksi pada bulan yang sama tahun 2019.



VP of Marketing JNE Eri Palgunadi mengatakan bisnis jasa pengiriman merupakan salah satu yang tidak terlalu terpengaruh oleh pandemi Covid-19, bahkan bisa dibilang makin bekembang. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terjun ke pasar daring pun turut mendapat berkah.
halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top