Imbas Inflasi 2020, Saat Ini Daya Beli Masih Rendah
Selasa, 05 Januari 2021 - 07:01 WIB
loading...
A
A
A
Inflasi yang cukup tinggi terjadi ketika ada kenaikan harga bahan pangan pada bulan Desember. Namun, kata Bhima, inflasi pangan atau volatile food tercatat sebesar 2,17% pada bulan Desember itu bukan disebabkan kenaikan permintaan, tetapi akibat gangguan pada pasokan.
"Faktor curah hujan yang tinggi menyebabkan harga cabai meningkat, kemudian ada kelangkaan pasokan kedelai impor itu juga berpengaruh," tandasnya.
Sementara, kata dia, inflasi inti atau core inflation bulan Desember menurun ke 0,45%. Hal itu sebagai indikator daya dorong pembentukan harga dari sisi permintaan cenderung rendah.
Ekonom Indef Nailul Huda mengatakan, inflasi yang rendah menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah dalam pemulihan ekonomi secara nasional. “Walaupun dalam tiga bulan terakhir kita mengalami inflasi (dan meningkat), inflasi secara tahunan kita masih sangat rendah di angka 1,68%,” ucapnya. (Baca juga: 5 Fakta Parosmia, Gejala Baru Covid-19)
Menurut Nailul, rendahnya inflasi tahunan membuktikan kemampuan daya beli masyarakat meningkat dalam tiga bulan terakhir, tetapi relatif tetap rendah secara tahunan. Dalam perhitungan ekonomi/PDB konsumsi masyarakat akan sedikit membaik pada kuartal IV/2020. “Namun, masih tidak akan sebesar kuartal IV/2019. Jadi, pertumbuhan ekonomi masih akan minus,” ujarnya.
Sementara itu, menurut, Ekonom CORE Piter Abdullah, inflasi yang rendah ini memberi ruang kepada otoritas khususnya Bank Indonesia (BI) untuk tetap melanjutkan kebijakan moneter longgar dalam rangka mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional. “BI untuk tetap melanjutkan kebijakan moneter longgar dalam rangka mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional,” tandasnya.
"Faktor curah hujan yang tinggi menyebabkan harga cabai meningkat, kemudian ada kelangkaan pasokan kedelai impor itu juga berpengaruh," tandasnya.
Sementara, kata dia, inflasi inti atau core inflation bulan Desember menurun ke 0,45%. Hal itu sebagai indikator daya dorong pembentukan harga dari sisi permintaan cenderung rendah.
Ekonom Indef Nailul Huda mengatakan, inflasi yang rendah menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah dalam pemulihan ekonomi secara nasional. “Walaupun dalam tiga bulan terakhir kita mengalami inflasi (dan meningkat), inflasi secara tahunan kita masih sangat rendah di angka 1,68%,” ucapnya. (Baca juga: 5 Fakta Parosmia, Gejala Baru Covid-19)
Menurut Nailul, rendahnya inflasi tahunan membuktikan kemampuan daya beli masyarakat meningkat dalam tiga bulan terakhir, tetapi relatif tetap rendah secara tahunan. Dalam perhitungan ekonomi/PDB konsumsi masyarakat akan sedikit membaik pada kuartal IV/2020. “Namun, masih tidak akan sebesar kuartal IV/2019. Jadi, pertumbuhan ekonomi masih akan minus,” ujarnya.
Sementara itu, menurut, Ekonom CORE Piter Abdullah, inflasi yang rendah ini memberi ruang kepada otoritas khususnya Bank Indonesia (BI) untuk tetap melanjutkan kebijakan moneter longgar dalam rangka mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional. “BI untuk tetap melanjutkan kebijakan moneter longgar dalam rangka mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional,” tandasnya.
Lihat Juga :