Waspadai Gejolak Inflasi di Daerah Terdampak Bencana Alam
Selasa, 02 Februari 2021 - 13:20 WIB
loading...
A
A
A
Suharyanto menambahkan inflasi tahun 2021 ini lebih lambat dibandingkan tahun 2020. Pasalnya dampak virus korona (Covid-19) belum mereda di semua negara termasuk Indonesia.
“Roda ekonomi masih melambat karena pandemi Covid-19 belum mereda,” tandasnya
Baca Juga: Gempa Bumi Majene-Mamuju: Sebanyak 19.435 Orang Terpaksa Mengungsi
BPS pun mengklaim angka inflasi pada periode ini pun tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan Januari 2020 yang saat itu sebesar 0,39%. Menurutnya, inflasi pada Januari 2021 secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 1,55% yang juga masih lebih rendah dari posisi inflasi pada Desember 2020 dan Januari 2020.
“Kalau kita lihat pergerakan ini, memasuki 2021 ini dampak Covid-19 belum reda, masih membayang-bayangi perekonomian di berbagai negara, termasuk Indonesia,” kata Suhariyanto.
Dia menambahkan, inflasi Januari 2021 didorong oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau. Tahu, tempe, hingga cabet rawit juga menjadi penyumbang inflasi.
“Ada beberapa komoditas yang memberikan sumbangan inflasi beberapa komoditas andil pertama cabai rawit sebesar 0,08%, kemudian ikan segar memberikan andil inflasi 0,08%, kemudian harga tempe 0,03% dan satu lagi kenaikan harga tahu mentah 0,02 %,” imbuhnya.
Dari 11 kelompok pengeluaran seluruh kelompok mengalami inflasi, kecuali sektor transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,30%. Kelompok makanan dan minuman pada bulan Januari 2021 mengalami inflasi 0,81% yang memberikan andil inflasi 0,21% .
“Roda ekonomi masih melambat karena pandemi Covid-19 belum mereda,” tandasnya
Baca Juga: Gempa Bumi Majene-Mamuju: Sebanyak 19.435 Orang Terpaksa Mengungsi
BPS pun mengklaim angka inflasi pada periode ini pun tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan Januari 2020 yang saat itu sebesar 0,39%. Menurutnya, inflasi pada Januari 2021 secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 1,55% yang juga masih lebih rendah dari posisi inflasi pada Desember 2020 dan Januari 2020.
“Kalau kita lihat pergerakan ini, memasuki 2021 ini dampak Covid-19 belum reda, masih membayang-bayangi perekonomian di berbagai negara, termasuk Indonesia,” kata Suhariyanto.
Dia menambahkan, inflasi Januari 2021 didorong oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau. Tahu, tempe, hingga cabet rawit juga menjadi penyumbang inflasi.
“Ada beberapa komoditas yang memberikan sumbangan inflasi beberapa komoditas andil pertama cabai rawit sebesar 0,08%, kemudian ikan segar memberikan andil inflasi 0,08%, kemudian harga tempe 0,03% dan satu lagi kenaikan harga tahu mentah 0,02 %,” imbuhnya.
Dari 11 kelompok pengeluaran seluruh kelompok mengalami inflasi, kecuali sektor transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,30%. Kelompok makanan dan minuman pada bulan Januari 2021 mengalami inflasi 0,81% yang memberikan andil inflasi 0,21% .
Lihat Juga :