Daya Beli Pengaruhi Permintaan Kredit
Selasa, 09 Februari 2021 - 07:17 WIB
loading...
Aktivitas perekonomian tergantung dari daya beli masyarakat. Foto/Arif Julianto
A
A
A
JAKARTA-Perbankan nasional mengklaim turunnya permintaan kredit bukan disebabkan suku bunga kredit perbankan yang dinilai masih tinggi. Namun lebih disebabkan tingkat konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat juga menurun.
“Bagi BRI, untuk mendorong roda perekonomian atau dunia usaha melalui pertumbuhan kredit, maka yang perlu dilakukan adalah meningkatkan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat,” ujar Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Aestika Oryza kepada KORAN SINDO.
Dia melanjutkan, untuk menggerakkan dan memulihkan perekonomian di masa pandemi Covid-19, langkah pemerintah dinilai sudah tepat dengan mengeluarkan berbagai stimulus yang diterima masyarakat bawah, yang diberikan kepada pengusaha mikro dan kecil. Pasalnya dengan stimulus tersebut dapat menggerakkan perekonomian, khususnya mengungkit daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga.
"Kedua hal tersebutlah yang menjadi faktor utama yang akan mendorong permintaan/pertumbuhan kredit perbankan," papar Aestika. (Baca juga:Walah! Suku Bunga Turun Kredit Masih Bisa Seret Lho)
Menurut dia, dalam konteks permintaan kredit dari dunia usaha, lanjut dia, BRI terus berperan dalam menjalankan counter cyclical melalui fungsi agent of development. Hal ini terlihat dari penyaluran kredit yang tetap tumbuh positif meskipun ekonomi nasional terkontraksi.
Hingga akhir Desember 2020, kata Aestika, secara konsolidasian BRI berhasil menyalurkan kredit senilai Rp938,37 triliun atau tumbuh 3,89% year on year. Bahkan, khusus kredit mikro BRI tumbuh double digit mencapai 14,18 persen."Angka tersebut jauh lebih baik, jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit nasional di tahun 2020 yang diperkirakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berada dikisaran minus 1 hingga 2 persen," ungkapnya.
“Bagi BRI, untuk mendorong roda perekonomian atau dunia usaha melalui pertumbuhan kredit, maka yang perlu dilakukan adalah meningkatkan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat,” ujar Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Aestika Oryza kepada KORAN SINDO.
Dia melanjutkan, untuk menggerakkan dan memulihkan perekonomian di masa pandemi Covid-19, langkah pemerintah dinilai sudah tepat dengan mengeluarkan berbagai stimulus yang diterima masyarakat bawah, yang diberikan kepada pengusaha mikro dan kecil. Pasalnya dengan stimulus tersebut dapat menggerakkan perekonomian, khususnya mengungkit daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga.
"Kedua hal tersebutlah yang menjadi faktor utama yang akan mendorong permintaan/pertumbuhan kredit perbankan," papar Aestika. (Baca juga:Walah! Suku Bunga Turun Kredit Masih Bisa Seret Lho)
Menurut dia, dalam konteks permintaan kredit dari dunia usaha, lanjut dia, BRI terus berperan dalam menjalankan counter cyclical melalui fungsi agent of development. Hal ini terlihat dari penyaluran kredit yang tetap tumbuh positif meskipun ekonomi nasional terkontraksi.
Hingga akhir Desember 2020, kata Aestika, secara konsolidasian BRI berhasil menyalurkan kredit senilai Rp938,37 triliun atau tumbuh 3,89% year on year. Bahkan, khusus kredit mikro BRI tumbuh double digit mencapai 14,18 persen."Angka tersebut jauh lebih baik, jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit nasional di tahun 2020 yang diperkirakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berada dikisaran minus 1 hingga 2 persen," ungkapnya.
Lihat Juga :