Seberapa Penting Memiliki Asuransi di Masa Pagebluk
Rabu, 10 Februari 2021 - 22:26 WIB
loading...
A
A
A
Kedua jenis asuransi ini, menurutnya, untuk melindungi diri dan keluarga ketika terjadi risiko hingga paling berat, misalnya meninggal dunia. Dengan adanya asuransi jiwa, keluarga yang ditinggalkan akan mendapatkan santunan. Langkah kedua dalam memilih asuransi, yakni mengetahui nilai polis dan manfaatnya.
“Kalau kesehatan, kita ketahui biayanya besar, baik obat-obatan dan rawat inap. Kita tidak berharap itu terjadi. Akan tetapi, kalau itu terjadi, dananya kan sudah disiapkan. Dananya bisa diambil dari kocek sendiri atau transfer risiko ke perusahaan asuransi. Yang lebih wise itu kita mentransfer risiko pada perusahaan asuransi,” ujarnya saat dihubungi SINDONews, Selasa (9/2/2021).
Alasannya, pembayaran preminya kecil, tetapi perlindungan besar. Budi mengungkapkan ada salah kaprah pemikiran di masyarakat jika klaim asuransi tidak dipakai merasa rugi. Pemikiran seperti mengasumsikan asuransi sebagai investasi atau bisnis. Seharusnya menganggap asuransi sebagai perlindungan risiko, yang ketika terjadi, uangnya ada.
“Kalau enggak ke pakai uang kemana sih? Satu, untuk perusahaan asuransi. Kedua, untuk orang-orang yang ternyata tidak seberuntung kita yang sehat dalam tahun berjalan tersebut. Jangan merasa rugi telah membayar premi, tapi enggak ke pakai. Kalau enggak ke pakai justru kita bersyukur (masih sehat),” jelas Budi.
Pemilihan produk asuransi juga harus melihat kebutuhan apakah untuk sementara atau permanen. Yang masuk dalam permanen itu, salah satunya, asuransi jiwa. Pemilik polis ini biasanya ingin memberikan peninggalan kepada keluarga. Asuransi sementara itu, misalnya, untuk kebutuhan biaya pendidikan.
“Kalau kesehatan, kita ketahui biayanya besar, baik obat-obatan dan rawat inap. Kita tidak berharap itu terjadi. Akan tetapi, kalau itu terjadi, dananya kan sudah disiapkan. Dananya bisa diambil dari kocek sendiri atau transfer risiko ke perusahaan asuransi. Yang lebih wise itu kita mentransfer risiko pada perusahaan asuransi,” ujarnya saat dihubungi SINDONews, Selasa (9/2/2021).
Alasannya, pembayaran preminya kecil, tetapi perlindungan besar. Budi mengungkapkan ada salah kaprah pemikiran di masyarakat jika klaim asuransi tidak dipakai merasa rugi. Pemikiran seperti mengasumsikan asuransi sebagai investasi atau bisnis. Seharusnya menganggap asuransi sebagai perlindungan risiko, yang ketika terjadi, uangnya ada.
“Kalau enggak ke pakai uang kemana sih? Satu, untuk perusahaan asuransi. Kedua, untuk orang-orang yang ternyata tidak seberuntung kita yang sehat dalam tahun berjalan tersebut. Jangan merasa rugi telah membayar premi, tapi enggak ke pakai. Kalau enggak ke pakai justru kita bersyukur (masih sehat),” jelas Budi.
Pemilihan produk asuransi juga harus melihat kebutuhan apakah untuk sementara atau permanen. Yang masuk dalam permanen itu, salah satunya, asuransi jiwa. Pemilik polis ini biasanya ingin memberikan peninggalan kepada keluarga. Asuransi sementara itu, misalnya, untuk kebutuhan biaya pendidikan.
Lihat Juga :