Pentingnya Mencintai Produk Lokal
Selasa, 09 Maret 2021 - 05:16 WIB
loading...
A
A
A
Perhatian yang dimaksud adalah proses edukasi kepada masyarakat maupun para pelaku usaha dalam mengembangkan sebuah produk. Termasuk hal-hal detail mengenai cara pengemasan yang menarik agar produk lokal semakin diminati.
"Untuk saat ini jumlah produk lokal yang mampu bersaing dengan produk impor sekitar 50%. Masih banyak lagi yang harus ditingkatkan seperti kualitasnya, cara pengemaannya, harganya, agar mampu menarik minat pasar," kata Roy.
Sementara itu, Executive Director Retailer Services Nielsen Yongky Susilo menyarankan, agar konsumen Indonesia loyal kepada produk lokal ada beberapa syarat yang harus dipenuhi para pengelola brand. Misalnya, sebuah produk harus dibangun dengan brand yang baik agar konsumen bisa ikut merasakan pengalaman dari barang yang dibeli.
"Jika ingin membuat konsumen kita loyal terhadap produk sendiri, kita harus bangun story di produknya. Karena konsumen saat ini tidak melihat dari sisi prodaknya saja, tetapi melihat cerita yang ada dalam produk tersebut," ujar Yongky.
Dia menambahkan, saat ini pemerintah masih mencari cara untuk mengurangi dominasi produk impor yang ada di e-commerce. Masih besarnya dominasi produk luar di pasar digital dikarenakan karakteristik market Indonesia sendiri.
"Menurut saya isu dasanya adalah perilaku pasar yang masih skeptis dengan produk lokal," ungkapnya.
Secara garis besar, Yongky menyebutkan, ada dua karakteristik umum pasar Indonesia, yaitu menyukai merek luar negeri dan sensitif terhadap harga. Karena itu, apa yang terjadi saat ini sedikit banyak menggambarkan karakter dari konsumen kita sendiri. Meski begitu, kata dia, beberapa produk lokal saat ini sudah mulai menggeliat walau mereka masih berjuang keras untuk bersaing dengan produk luar.
"Pemerintah harus proaktif membantu produsen, terutama yang berada pada sektor UKM melalui insentif, keringanan pajak, pemodalan, dan yang paling penting knowledge-nya,” kata dia.
Yongky menambahkan, selama ini belum banyak produk UKM yang peka terhadap teknologi. Sehingga, pemerintah perlu melakukan sosialisai berkelanjutan untuk bisa menangani persoalan ini.
Hal tersebut untuk merespons potensi dari penjualan online yang masih cukup tinggi.
Yang tak kalah penting adalah, perlunya dilakukan pendampingan berkelanjutan oleh pemerintah agar para produsen dapat memastikan kualitas produk yang dihasilkan sudah sesuai standar.
“Proses pendampingan ini harus diikuti dengan menjaga kualitas produk, peningkatan volume produksi, pemasaran dan manajemen marketing yang mesti dilakukan. Dengan begitu produk lokal akan lebih mampu mencuri perhatian pasar," katanya.
"Untuk saat ini jumlah produk lokal yang mampu bersaing dengan produk impor sekitar 50%. Masih banyak lagi yang harus ditingkatkan seperti kualitasnya, cara pengemaannya, harganya, agar mampu menarik minat pasar," kata Roy.
Sementara itu, Executive Director Retailer Services Nielsen Yongky Susilo menyarankan, agar konsumen Indonesia loyal kepada produk lokal ada beberapa syarat yang harus dipenuhi para pengelola brand. Misalnya, sebuah produk harus dibangun dengan brand yang baik agar konsumen bisa ikut merasakan pengalaman dari barang yang dibeli.
"Jika ingin membuat konsumen kita loyal terhadap produk sendiri, kita harus bangun story di produknya. Karena konsumen saat ini tidak melihat dari sisi prodaknya saja, tetapi melihat cerita yang ada dalam produk tersebut," ujar Yongky.
Dia menambahkan, saat ini pemerintah masih mencari cara untuk mengurangi dominasi produk impor yang ada di e-commerce. Masih besarnya dominasi produk luar di pasar digital dikarenakan karakteristik market Indonesia sendiri.
"Menurut saya isu dasanya adalah perilaku pasar yang masih skeptis dengan produk lokal," ungkapnya.
Secara garis besar, Yongky menyebutkan, ada dua karakteristik umum pasar Indonesia, yaitu menyukai merek luar negeri dan sensitif terhadap harga. Karena itu, apa yang terjadi saat ini sedikit banyak menggambarkan karakter dari konsumen kita sendiri. Meski begitu, kata dia, beberapa produk lokal saat ini sudah mulai menggeliat walau mereka masih berjuang keras untuk bersaing dengan produk luar.
"Pemerintah harus proaktif membantu produsen, terutama yang berada pada sektor UKM melalui insentif, keringanan pajak, pemodalan, dan yang paling penting knowledge-nya,” kata dia.
Yongky menambahkan, selama ini belum banyak produk UKM yang peka terhadap teknologi. Sehingga, pemerintah perlu melakukan sosialisai berkelanjutan untuk bisa menangani persoalan ini.
Hal tersebut untuk merespons potensi dari penjualan online yang masih cukup tinggi.
Yang tak kalah penting adalah, perlunya dilakukan pendampingan berkelanjutan oleh pemerintah agar para produsen dapat memastikan kualitas produk yang dihasilkan sudah sesuai standar.
“Proses pendampingan ini harus diikuti dengan menjaga kualitas produk, peningkatan volume produksi, pemasaran dan manajemen marketing yang mesti dilakukan. Dengan begitu produk lokal akan lebih mampu mencuri perhatian pasar," katanya.
(ynt)
Lihat Juga :