Kendalikan Harga Pangan Jelang Ramadhan
Selasa, 23 Maret 2021 - 06:06 WIB
loading...
A
A
A
“Namun, akan kembali meningkat surplusnya di akhir Maret, selanjutnya diprediksi terjadi panen raya di bulan April sampai Juli," ujarnya kepada KORAN SINDO kemarin.
Dia menambahkan, berdasarkan data yang diambil dari sistem informasi pemasaran hortikultura, harga beberapa komoditas strategis seperti cabai merah keriting relatif masih terkendali.
Harga ini memang sempat tinggi pada pertengahan Desember 2020 hingga pertengahan Januari 2021, tetapi kembali turun pada akhir Januari 2021. Kondisi ini, menurutnya, bersifat sementara dan masyarakat diharap dapat berlaku tenang.
"Angka kebutuhan cabai rawit pada Februari 70.005 ton sementara prognosa diperkirakan 89.717 ton. Ini artinya terjadi surplus yang kemungkinan besar harga akan kembali normal," tutur Prihasto.
Dia juga mengakui, cuaca menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya harga cabai. Saat ini terjadi kondisi yang tidak mampu dikendalikan yaitu faktor alam dan tingginya curah hujan yang terjadi sejak Desember atau fenomena la Nina.
Baca juga: PDIP Tegaskan Memaksakan Impor Beras Mencoreng Muka Presiden Jokowi
Curah hujan yang tinggi ini tidak dapat dipungkiri berpengaruh pada proses produksi cabai maupun distribusinya dari wilayah produsen ke wilayah konsumen.
"Hujan juga menyebabkan banjir di beberapa wilayah sentra dan jalur distribusi. Salah satunya Kabupaten Malang, Lumajang, Nganjuk, dan Probolinggo. Lahan cabai di daerah tersebut tergenang akibat hujan yang cukup tinggi sejak Desember lalu, inilah yang menjadi salah satu faktor tingginya harga cabai," kata Prihasto.
Untuk mengatasi gejolak harga cabai, saat Ramadan dan Lebaran nanti, Kementan telah melakukan usaha pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Selain itu, Kementan juga mengarahkan produk hortikultura dari daerah yang sedang panen ke titik-titik pasar yang membutuhkan.
"Jika pengiriman mengalami kendala para petani bisa menghubungi kami untuk dikirimkan truk berpendingin yang akan menjemput produk tersebut dan mendistribusikannya ke pasar tujuan," tegasnya.
Sedangkan dari sisi pengolahan dan pemasaran pascapanen, Prihasto menegaskan bahwa pemerintah ikut memfasilitasi rumah produksi, alat-alat pengering (dome drying), alat pengolahan pasta cabai. Tidak hanya itu, pihaknya juga menyediakan aplikasi penjualan daring (online) produk segar dan olahan secara gratis untuk pelaku agribisnis melalui hortitraderoom.com.
Harga Bawang Putih Juga Naik
Selain cabai, komoditas lain yang mengalami kenaikan adalah bawang putih. Menanggapi hal ini, Prihasto menjelaskan, kebutuhan impor bawang putih tahun ini mencapai 532.000 ton. Saat ini, masih terdapat sisa stok bawang putih dari 2020 sebanyak 134.000 ton. Dengan demikian, Indonesia masih kurang 398.000 ton untuk impor bawang putih.
Data Kementan menyebutkan, secara keseluruhan kebutuhan bawang putih nasional sebanyak 591.000 ton. Namun, hanya 59.000 ton yang dipenuhi produksi dalam negeri, sehingga diperkukan impor untuk memenuhinya.
Dia menambahkan, berdasarkan data yang diambil dari sistem informasi pemasaran hortikultura, harga beberapa komoditas strategis seperti cabai merah keriting relatif masih terkendali.
Harga ini memang sempat tinggi pada pertengahan Desember 2020 hingga pertengahan Januari 2021, tetapi kembali turun pada akhir Januari 2021. Kondisi ini, menurutnya, bersifat sementara dan masyarakat diharap dapat berlaku tenang.
"Angka kebutuhan cabai rawit pada Februari 70.005 ton sementara prognosa diperkirakan 89.717 ton. Ini artinya terjadi surplus yang kemungkinan besar harga akan kembali normal," tutur Prihasto.
Dia juga mengakui, cuaca menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya harga cabai. Saat ini terjadi kondisi yang tidak mampu dikendalikan yaitu faktor alam dan tingginya curah hujan yang terjadi sejak Desember atau fenomena la Nina.
Baca juga: PDIP Tegaskan Memaksakan Impor Beras Mencoreng Muka Presiden Jokowi
Curah hujan yang tinggi ini tidak dapat dipungkiri berpengaruh pada proses produksi cabai maupun distribusinya dari wilayah produsen ke wilayah konsumen.
"Hujan juga menyebabkan banjir di beberapa wilayah sentra dan jalur distribusi. Salah satunya Kabupaten Malang, Lumajang, Nganjuk, dan Probolinggo. Lahan cabai di daerah tersebut tergenang akibat hujan yang cukup tinggi sejak Desember lalu, inilah yang menjadi salah satu faktor tingginya harga cabai," kata Prihasto.
Untuk mengatasi gejolak harga cabai, saat Ramadan dan Lebaran nanti, Kementan telah melakukan usaha pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Selain itu, Kementan juga mengarahkan produk hortikultura dari daerah yang sedang panen ke titik-titik pasar yang membutuhkan.
"Jika pengiriman mengalami kendala para petani bisa menghubungi kami untuk dikirimkan truk berpendingin yang akan menjemput produk tersebut dan mendistribusikannya ke pasar tujuan," tegasnya.
Sedangkan dari sisi pengolahan dan pemasaran pascapanen, Prihasto menegaskan bahwa pemerintah ikut memfasilitasi rumah produksi, alat-alat pengering (dome drying), alat pengolahan pasta cabai. Tidak hanya itu, pihaknya juga menyediakan aplikasi penjualan daring (online) produk segar dan olahan secara gratis untuk pelaku agribisnis melalui hortitraderoom.com.
Harga Bawang Putih Juga Naik
Selain cabai, komoditas lain yang mengalami kenaikan adalah bawang putih. Menanggapi hal ini, Prihasto menjelaskan, kebutuhan impor bawang putih tahun ini mencapai 532.000 ton. Saat ini, masih terdapat sisa stok bawang putih dari 2020 sebanyak 134.000 ton. Dengan demikian, Indonesia masih kurang 398.000 ton untuk impor bawang putih.
Data Kementan menyebutkan, secara keseluruhan kebutuhan bawang putih nasional sebanyak 591.000 ton. Namun, hanya 59.000 ton yang dipenuhi produksi dalam negeri, sehingga diperkukan impor untuk memenuhinya.
Lihat Juga :