Dedi Mulyadi Sebut Bulog Gagal, Ini Respons Manajemen
Kamis, 25 Maret 2021 - 12:59 WIB
loading...
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Perum Bulog angkat bicara perihal pernyataan Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi. Dimana, Dedi menilai Bulog gagal menyerap gabah petani.
Sekretaris perusahaan Bulog, Awaludin iqbal menyebut, saat ini pihaknya tengah fokus terhadap penyerapan gabah beras petani. Bahkan, hingga saat ini penyerapan sudah mencapai 158.000 ton. "Saat ini kami semua sedang fokus kepada penyerapan gabah beras petani, dan sampai saat ini realisasinya sudah mencapai 158.000 ton," ujar Awaludin saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Kamis (25/3/2021).
Baca Juga: Ombudsman Soroti Mekanisme Penyaluran Beras Bulog
Terkait skema penyerapannya, Bulog tetap mengikuti ketentuan atau prosedur penyerapan gabah sesuai yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 24 Tahun 2020. Sebelumnya, Dedi mengutarakan Bulog tak memiliki kemampuan menyerap gabah petani, sehingga para petani menjual hasil padinya ke tengkulak. Namun, seringkali tengkulak tidak semuanya memiliki modal yang cukup.
"Banyak tengkulak yang baru bisa membayar setelah penjualan, sehingga ada titik waktu banyak para petani kecil yang mengalami kekosongan keuangan, karena menunggu hasil gabahnya menjadi beras dan laku di pasar," kata Dedi.
Tak hanya itu, dia juga menilai Bulog tidak maksimalnya menyerap gabah petani. Dimana, daya serap Bulog itu rendah, karena sering kali membeli beras di bawah tengkulak. Misalnya, tengkulak membeli gabah dari petani Rp 4.200 per kilogram, sedangkan Bulog hanya Rp 3.800 per kilogram. Hal itu karena memang Bulog memiliki kehati-hatian dalam membeli gabah.
Perusahaan juga ternyata tidak mampu menjual beras. Hal itu bisa dilihat dari masih banyaknya stok lama yang tak bisa keluar. "Banyak beras lama tak terpakai berarti tak bisa keluar kan, sehingga mengalami kerusakan," kata politisi Golkar ini.
Sekretaris perusahaan Bulog, Awaludin iqbal menyebut, saat ini pihaknya tengah fokus terhadap penyerapan gabah beras petani. Bahkan, hingga saat ini penyerapan sudah mencapai 158.000 ton. "Saat ini kami semua sedang fokus kepada penyerapan gabah beras petani, dan sampai saat ini realisasinya sudah mencapai 158.000 ton," ujar Awaludin saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Kamis (25/3/2021).
Baca Juga: Ombudsman Soroti Mekanisme Penyaluran Beras Bulog
Terkait skema penyerapannya, Bulog tetap mengikuti ketentuan atau prosedur penyerapan gabah sesuai yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 24 Tahun 2020. Sebelumnya, Dedi mengutarakan Bulog tak memiliki kemampuan menyerap gabah petani, sehingga para petani menjual hasil padinya ke tengkulak. Namun, seringkali tengkulak tidak semuanya memiliki modal yang cukup.
"Banyak tengkulak yang baru bisa membayar setelah penjualan, sehingga ada titik waktu banyak para petani kecil yang mengalami kekosongan keuangan, karena menunggu hasil gabahnya menjadi beras dan laku di pasar," kata Dedi.
Tak hanya itu, dia juga menilai Bulog tidak maksimalnya menyerap gabah petani. Dimana, daya serap Bulog itu rendah, karena sering kali membeli beras di bawah tengkulak. Misalnya, tengkulak membeli gabah dari petani Rp 4.200 per kilogram, sedangkan Bulog hanya Rp 3.800 per kilogram. Hal itu karena memang Bulog memiliki kehati-hatian dalam membeli gabah.
Perusahaan juga ternyata tidak mampu menjual beras. Hal itu bisa dilihat dari masih banyaknya stok lama yang tak bisa keluar. "Banyak beras lama tak terpakai berarti tak bisa keluar kan, sehingga mengalami kerusakan," kata politisi Golkar ini.
Lihat Juga :