Investasi Sektor EBT Terus Meningkat
Rabu, 14 April 2021 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
“Fokus kami ke depan adalah mengembangan portofolio bisnis termasuk tambang emas, EBT, terminal bahan bakar, teknologi digital hingga kendaraan listrik,” kata pria yang akan maju sebagai calon Ketua Umum Kadin Indonesia itu.
Dia menyebutkan secara makro ada sejumlah tantangan dalam pengembangan sektor energi dan mineral di masa mendatang. Antara lain, di masa transisi menuju energi baru dan terbarukan harus ada objektif guna memastikan ketahanan dan kemandirian energi serta kontribusi pada isu perubahan iklim.
Sementara itu, pakar energi kelistrikan Iwa Garniwa pada diskusi yang sama menjelaskan bahwa ketahanan energi, kemandirian energi, dan kedaulatan energi memiliki tiga pengertian berbeda baik dalam substansi maupun objektifnya. Sehingga, diperlukan perumusan dan implementasi konsepsi kebijakan untuk mewujudkannya.
“Saya contohkan begini. Indonesia itu emisi karbon masih kecil sekitar 1,8%, namun Indonesia seolah-olah merasa perlu untuk segera melakukan transisi energi. Bagaimana mungkin dari 50% bauran energi dari PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) digantikan dengan renewable?” kata Iwa.
Dia juga menilai, target bauran energi 23% pada 2025 kurang realistis. Hal ini berkaca pada realisasi hingga tahun 2020 yang hanya 11,2%.
"Saya perkirakan capaian pada 2025 maksimal tambahannya 8% jadi realistisnya 19-20%," ucap Iwa.
Dia menyebutkan secara makro ada sejumlah tantangan dalam pengembangan sektor energi dan mineral di masa mendatang. Antara lain, di masa transisi menuju energi baru dan terbarukan harus ada objektif guna memastikan ketahanan dan kemandirian energi serta kontribusi pada isu perubahan iklim.
Sementara itu, pakar energi kelistrikan Iwa Garniwa pada diskusi yang sama menjelaskan bahwa ketahanan energi, kemandirian energi, dan kedaulatan energi memiliki tiga pengertian berbeda baik dalam substansi maupun objektifnya. Sehingga, diperlukan perumusan dan implementasi konsepsi kebijakan untuk mewujudkannya.
“Saya contohkan begini. Indonesia itu emisi karbon masih kecil sekitar 1,8%, namun Indonesia seolah-olah merasa perlu untuk segera melakukan transisi energi. Bagaimana mungkin dari 50% bauran energi dari PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) digantikan dengan renewable?” kata Iwa.
Dia juga menilai, target bauran energi 23% pada 2025 kurang realistis. Hal ini berkaca pada realisasi hingga tahun 2020 yang hanya 11,2%.
"Saya perkirakan capaian pada 2025 maksimal tambahannya 8% jadi realistisnya 19-20%," ucap Iwa.
(ynt)
Lihat Juga :