Ini 'Kenikmatan' Minyak Jelantah Jika Dijadikan Biodiesel

Minggu, 18 April 2021 - 08:30 WIB
loading...
Ini Kenikmatan Minyak Jelantah Jika Dijadikan Biodiesel
Foto/AdamErlangga/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Bahan bakar biodiesel dari minyak jelantah disebut bisa mengatasi masalah dari berbagai aspek, termasuk kesehatan dan masalah lingkungan hidup. Engagement Unit Manager Traction Energy Asia, Ricky Amukti, mengatakan, minyak jelantah yang dibuang sembarangan akan berpengaruh langsung terhadap lingkungan hidup.

Ricky menyebut, jika minyak jelantah dibiarkan menumpuk di selokan, akan menimbulkan bau dan air selokan jadi kotor dan jika terserap di tanah, kualitas tanah akan menurun. Selain ada kebutuhan akan bahan bakar alternatif, ada pula kebutuhan untuk menyelamatkan lingkungan dari ancaman perubahan iklim. ( Baca juga:Kisah Pemuda Raup Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Biodiesel )

"Penggunaan biodiesel dari minyak jelantah ini akan menekan jumlah emisi karbon. Di samping itu, jika memanfaatkan jelantah, kita tak perlu mengganti hutan dengan perkebunan kelapa sawit, yang justru berpotensi meningkatkan emisi karbon,” ujar Ricky dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/4/2021).

Ricky menambahkan, Traction Energy Asia sendiri menginisiasi Asosiasi Pengelola Minyak Jelantah dengan tujuan mengadvokasi kebijakan agar minyak jelantah diatur oleh regulasi dan hampir semua kalangan merespons positif.

“Meski amat menjanjikan, bisnis pengolahan jelantah jadi biodiesel masih memiliki banyak tantangan, antara lain dalam teknologi pengolahan dan proses pengumpulan minyak jelantah," kata dia.

Menurutnya, minyak goreng yang dipanaskan berulang dan minyak jelantah yang dijernihkan lalu dipakai lagi, berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit, seperti penyakit jantung, ginjal, dan stroke. ( Baca juga:Prajurit TNI Gabung KKB, Komnas HAM Minta Kedepankan Pendekatan Dialog di Papua )

"Berdasarkan penelitian, dari 16,2 juta kiloliter konsumsi minyak goreng (minyak sawit), hanya 3 juta kiloliter minyak jelantah yang mampu dikumpulkan di tahun 2019. 2,43 juta kiloliter di antaranya didaur ulang untuk dikonsumsi kembali. Ini bahaya,” ucapnya.

Ricky menuturkan, sejumlah pengusaha biodiesel di berbagai kota mempekerjakan masyarakat lokal untuk mengolah dan menjual produk olahan jelantah, sehingga dia melihat bahwa usaha ini mampu menyerap banyak tenaga kerja.
(uka)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1827 seconds (10.55#12.26)