Kena Denda USD2,8 Miliar, Alibaba Tekor Rp23,8 Triliun

loading...
Kena Denda USD2,8 Miliar, Alibaba Tekor Rp23,8 Triliun
Raksasa e-commerce China Alibaba mencatat kerugian USD1,17 miliar di kuartal IV tahun fiskal 2021. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Alibaba melaporkan kerugian bersih sebesar 7,65 miliar yuan atau setara USD1,17 miliar (sekira Rp23,8 triliun dengan kurs Rp14.000 pet USD) pada kuartal fiskal keempat tahun 2021 yang berakhir pada 31 Maret 20210. Kerugian itu disinyalir disebabkan oleh denda anti-monopoli sebesar USD2,8 miliar yang dikenakan oleh regulator.

Mengutip Global Times, e-commerce besutan Jack Ma tersebut sebetulnya mencatatkan kenaikan pendapatan bisnis sebesar 64% (year on year/yoy) menjadi 187,4 miliar yuan. Hal itu terutama didorong oleh rebound kuat ekonomi China yang menopang konsumsi domestik.

Baca Juga: China Menampar Keras Alibaba dengan Denda USD2,8 Miliar Terkait Kasus Monopoli

Laporan itu muncul ketika investor pasar mengamati dengan cermat bagaimana raksasa e-commerce itu menavigasi perairan yang belum dipetakan atas denda berat untuk pelanggaran monopoli, serta perombakan bisnis dari cabang keuangannya, Ant Group.



Pada kuartal keempat tahun fiskal 2021, Alibaba mencatatkan rugi bersih pertamanya sejak IPO karena denda anti-trust, yang membuat Alibaba secara mendalam mengkaji hubungan antara pertumbuhan ekonomi internet dan perkembangan sosial, serta tanggung jawab sosialnya sendiri sebagai sebuah perusahaan platform.

Kendati demikian, kata Daniel Zhang Yong, CEO Alibaba Group, Alibaba akan menjadikan sanksi itu sebagai kesempatan untuk sepenuhnya merefleksikan dan menyesuaikan kondisi keuangan setelah hasil kuartalan diumumkan kepada publik.

Analis memperkirakan bahwa pertumbuhan laba Alibaba akan melambat tahun ini di tengah pengetatan pengawasan anti-monopoli, dengan volume transaksi menyusut dan lini bisnis tertentu diperbaiki agar sesuai dengan persyaratan peraturan.

Lini bisnis Alibaba juga melihat ekspansi ke sektor-sektor berkembang lainnya yang melayani ekonomi riil, termasuk komputasi awan dan big data.

Konsumen aktif tahunan untuk ekosistem Alibaba telah mencapai tonggak baru lebih dari 1 miliar, di antaranya konsumen aktif tahunan di pasar ritel China mencapai 811 juta pada 31 Maret 2021, meningkat 32 juta dari 12 bulan sebelumnya.

CFO Alibaba Group Maggie Wu mengatakan bahwa perusahaan mengharapkan untuk menghasilkan pendapatan bisnis lebih dari 930 miliar yuan pada tahun fiskal 2022. Pendapatan Alibaba adalah 717 miliar yuan pada tahun fiskal 2021, naik 41% (yoy).



"Kami berencana untuk menggunakan semua keuntungan tambahan dan modal tambahan pada tahun fiskal 2022 untuk mendukung pedagang kami dan berinvestasi ke lini bisnis baru dan garis depan strategis utama," kata Wu.

"Rekor denda Alibaba sebesar USD2,8 miliar mengikis profitabilitasnya untuk kuartal tersebut, yang merupakan kemunduran bagi perusahaan untuk melanjutkan pertumbuhan bisnisnya yang mengesankan tahun ini," kata Asisten Profesor di Gaoling School of Artificial Intelligence di Renmin University of China, Wang Peng.

Dia menambahkan bahwa perbaikan bisnis Alibaba atas pengaturan eksklusivitas paksa, yang dikenal sebagai "memilih satu dari dua (platform)", juga akan membebani pesanan yang ditempatkan melalui platform dan volume transaksi yang sesuai. Ini juga akan mempengaruhi kepercayaan investor dan kapitalisasi pasar.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top