Pasien Covid-19 Bertambah, RS Serahkan Penanganan Limbah Medis ke PPLI

Jum'at, 21 Mei 2021 - 16:57 WIB
loading...
Pasien Covid-19 Bertambah, RS Serahkan Penanganan Limbah Medis ke PPLI
Ilustrasi rumah sakit rujukan Covid-19. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Sejumlah rumah sakit (RS) bersiap menghadapi kemungkinan naiknya jumlah pasien Covid-19 pascalebaran. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) menyebut sejumlah rumah sakit di berbagai provinsi telah melaporkan adanya kenaikan kasus Covid-19.

Antara lain di Aceh dan Sulawesi Barat yang kasusnya mengalami kenaikan lebih dari 50%. Kenaikan jumlah kasus Covid-19 hingga 25% sampai 50% terjadi juga di Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, dan Riau. Kemungkinan besar menyusul di pulau Jawa, termasuk Jakarta.

Wakil Direktur RSUD Cibinong, Tomi mengatakan, sejumlah rumah sakit telah bersiap menghadapi potensi tersebut, mulai dari kesiapan tenaga medis hingga pengolahan limbahnya dengan menggandeng perusahaan penanganan limbah B3 seperti Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI).

Baca juga: Vaksin di Indonesia Belum Masuk Syarat Ibadah Haji, Bio Farma: Perkuat Diplomasi

"Limbah medis yang timbul dari alat-alat yang digunakan dalam penanganan Covid-19 juga kita tangani baik. Semua kita musnahkan, baik dengan peralatan insinerator yang dimiliki rumah sakit atau dengan menggandeng perusahaan yang profesional dalam penanganan limbah B3 seperti PPLI," ujarnya melalui siaran pers, Jumat (21/5/2021).

Limbah medis termasuk limbah Covid seperti masker bekas pakai, selang oksigen, jarum suntik dan lain-lain tidak akan digunakan kedua kali. "Semua dimusnahkan, tidak dibenarkan untuk digunakan kembali atau dijual sebagai barang bekas. Itu sangat berbahaya, barang-barang itu harus steril," tegasnya.

Bahkan, lanjut Tomi, sisa abu pembakaran limbah medis dari insinerator milik rumah sakit pun dikirimkan pihak RSUD kepada PPLI. "Karena RSUD sudah cukup lama bersinergi dengan PPLI terkait penanganan limbah B3 medis, mereka cukup profesional dan memiliki teknologi yang baik untuk mengolah limbah beracun dan berbahaya," tuturnya.

Terpisah, Manager Humas PPLI Arum Pusposari mengaku lonjakan penderita Covid-19 memang tidak langsung dampaknya dirasakan PPLI. Namun pihaknya selalu siap mengolah limbah-limbah yang dikirimkan dari pihak rumah sakit termasuk limbah sisa penggunaan alat atau obat-obatan Covid-19.

"Limbah medis berpotensi menimbulkan infeksius dan menjadi medium penyebaran wabah penyakit. Cara penanganannya pun tidak bisa sembarangan," tandasnya.

Baca juga: Bukan karena Covid-19, Ini Riwayat Penyakit Wimar Witoelar

Untuk menunjang pemusnahan limbah medis tersebut, PPLI juga tengah mengembangkan teknologi insinerator yang cukup besar dengan kapasitas 50 ton per hari.

Dengan teknologi tersebut, limbah medis baik padat maupun cair berapapun banyaknya dari tiap rumah sakit, Puskesmas, klinik dan laboratorium uji medis bisa ditangani dengan baik.

"Sejak 2020, PPLI mulai melakukan pembangunan insinerator limbah B3 dan akan beroperasi pada Juni 2021 mendatang. Insinerator ini akan jadi yang terbesar dan termodern di Indonesia," ungkapnya.
(ind)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1803 seconds (10.55#12.26)