Erick Thohir Sebut Pandemi Bangunkan Singa BUMN yang Tengah Tidur

loading...
Erick Thohir Sebut Pandemi Bangunkan Singa BUMN yang Tengah Tidur
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan bahwa masa pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) merupakan era merger atau penggabungan badan usaha milik negara (BUMN) . Kebijakan itu menjadi langkah transformasi bisnis BUMN.

Namun, ada sejumlah BUMN yang enggan dimerger. Pasalnya, BUMN yang merupakan perusahaan tercatat itu memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Sebut saja misalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

"Kita juga di telekomunikasi, sekarang eranya merger-merger, tapi Telkom masih besar," ujar Erick, Selasa (15/6/2021).

Baca juga:Pembelot Cantik Kecam Sensor Universitas AS: 'Bahkan Korut Tak Segila Ini'

Di lain sisi, pemegang saham memberi tantangan agar sejumlah perseroan pelat merah masuk ke dalam daftar Fortune 500. Langkah yang sama seperti dilakukan tiga Bank Himbara yakni, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank BRI (Persero) Tbk, dan Bank BNI (Persero) Tbk.

Keinginan Erick agar BUMN bersaing di pasar global diawali dengan pemangkasan 12 klaster. Jadi hanya ada klaster energi dan gas, klaster minerba, klaster perkebunan dan kehutanan, klaster pupuk dan pangan, klaster farmasi, klaster industri pertahanan, klaster asuransi, klaster media, klaster infrastruktur, klaster pariwisata, serta klaster sarana dan prasarana.



Dengan penyederhanaan klaster, pemegang saham berharap perseroan lain dapat mengikuti jejak BUMN sektor perbankan.

"Nah kita berharap klaster yang lain juga seperti itu sehingga BUMN bisa bersaing menjadi lokomotif pembangunan dan juga kesejahteraan. Memang ini tidak mudah tapi harus kita lakukan dalam waktu cepat. Karena kebetulan apa? Covid ini membangunkan singa BUMN yang lagi tidur, negara kita lagi tidur," tutur dia.

Baca juga:Nuca Ngaku Lagu Kagum Lahir dari Kekagumannya terhadap Artis A

Mantan Bos Inter Milan itu menegaskan era digitalisasi dan pasar terbuka menuntut perusahaan negara memperbarui bisnisnya. Karena itu, pemerintah terus mengambil langkah merapikan BUMN.



"Sekarang, benar-benar merapikan BUMN dengan segala kekurangan dan kelebihan, tapi kita lakukan lima hal. Satu memetakan BUMN mana yang sangat bisnis, mana yang 50-50 bisnis dan kesejahteraan, mana yang kesejahteraan seperti PT Pupuk, kita petakan," katanya.
(uka)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top