Kemenperin Suplai SDM dari Sekolah Vokasi di Indonesia Timur
Minggu, 20 Juni 2021 - 17:03 WIB
loading...
A
A
A
Kebutuhan tenaga kerja industri di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kawasan industri di daerah tersebut.
“Setiap tahun sekitar 96 lulusan AK Manufaktur Bantaeng terserap di industri. Salah satunya di PT Huadi Nickel Alloy Indonesia,” sebut Arus Gunawan di sela-sela kunjungan kerjanya di kampus AK Bantaeng.
Ini menambah supplai lulusan Politeknik ATI Makasar yang tahun 2020 meluluskan 490 orang. Ini pun masih sedikit dibanding kebutuhan yang ada. AK Manufaktur Bantaeng menyelenggarakan pendidikan Diploma 2 untuk tiga program studi, yaitu Teknik Perawatan Mesin, Teknik Listrik dan Instalasi, serta Analisis Kimia.
“Ke depan karena kawasan ini berkembang pesat, kami akan mendorong kampus untuk menyelenggarakan program pendidikan vokasi industri setara D1 untuk mendukung operasional sektor industri di Bantaeng,” jelasnya.
Sementara itu, Manager HRD PT Huadi Nickel Alloy Indonesia, A. Adrianti Latippa juga mengakui kebutuhan tenaga kerja di PT Huadi Nickel Alloy Indonesia cukup besar.
“Hinga tahun 2022, kebutuhan tenaga kerja mencapai 1.500 orang,” katanya.
Ia pun mendukung rencana program pendidikan singkat yang dicanangkan BPSDMI Kemenperin, yakni melalui program pendidikan vokasi industri setara D1 dengan kompetensi sesuai kebutuhan industri. “Program yang dibutuhkan sekarang untuk bidang alat berat dan mekanikal,” pintanya.
“Setiap tahun sekitar 96 lulusan AK Manufaktur Bantaeng terserap di industri. Salah satunya di PT Huadi Nickel Alloy Indonesia,” sebut Arus Gunawan di sela-sela kunjungan kerjanya di kampus AK Bantaeng.
Ini menambah supplai lulusan Politeknik ATI Makasar yang tahun 2020 meluluskan 490 orang. Ini pun masih sedikit dibanding kebutuhan yang ada. AK Manufaktur Bantaeng menyelenggarakan pendidikan Diploma 2 untuk tiga program studi, yaitu Teknik Perawatan Mesin, Teknik Listrik dan Instalasi, serta Analisis Kimia.
“Ke depan karena kawasan ini berkembang pesat, kami akan mendorong kampus untuk menyelenggarakan program pendidikan vokasi industri setara D1 untuk mendukung operasional sektor industri di Bantaeng,” jelasnya.
Sementara itu, Manager HRD PT Huadi Nickel Alloy Indonesia, A. Adrianti Latippa juga mengakui kebutuhan tenaga kerja di PT Huadi Nickel Alloy Indonesia cukup besar.
“Hinga tahun 2022, kebutuhan tenaga kerja mencapai 1.500 orang,” katanya.
Ia pun mendukung rencana program pendidikan singkat yang dicanangkan BPSDMI Kemenperin, yakni melalui program pendidikan vokasi industri setara D1 dengan kompetensi sesuai kebutuhan industri. “Program yang dibutuhkan sekarang untuk bidang alat berat dan mekanikal,” pintanya.
Lihat Juga :