The Menimizer, Inovasi Studio Model 3D Karya Anak Bangsa
Sabtu, 19 Juni 2021 - 09:01 WIB
loading...
A
A
A
Johanes Salikin, Chief Executive Officer (CEO) Menimize, menilai kecanggihan The Menimizer tak perlu diragukan lagi. Bahkan, hanya berbekal sebuah foto saja bisa dikonversikan menjadi file bentuk 3 dimensi dan dicetak dalam produk patung yang sesuai dengan tampilan di gambar. Dengan begitu, setiap momen berharga bisa diwujudkan menjadi 3 dimensi melalui alat tersebut.
“Teknologi ini memang dapat mengkonversi dari hanya sebuah foto saja, artinya dari file 2 dimensi menjadi 3 dimensi sehingga memungkinkan file foto itu dicetak dalam bentuk figur 3 dimensi,” tutur Jo sambil menunjukkan beragam hasil figur 3 dimensi yang terpampang di gerai Menimize.
Ukuran yang bisa dihasilkan pun beraneka macam. Mulai dari skala terkecil yaitu 1:64 atau panjangnya 2,5 sentimeter (cm) untuk figure Whole (seluruh badan). Kalau untuk Toon atau Bust mulai dari skala 1:12 atau panjangnya 8 sentimeter (cm). Masing-masing ukuran tentunya dibanderol dengan harga berbeda. Tarifnya mulai dari Rp300 ribu.
Ia berharap kehadiran rangkaian produk dan inovasi teknologi dari Menimize dapat menjawab berbagai kebutuhan mulai dari 3D asset, kostumisasi figure, dan lainnya. “Lebih dari itu, kami juga berharap untuk dapat menjadi bagian dari kehidupan konsumen untuk mengabadikan beragam momen berharga atau bersejarah dalam bentuk figur mini,” lanjutnya.
![The Menimizer, Inovasi Studio Model 3D Karya Anak Bangsa]()
Dari Hobi Jadi Cuan
Lahirnya studio pemodelan 3D pertama di Asia ini tak lepas dari kerja keras dua milenial Tanah Air yaitu Johanes Salikin dan Irene Nadya. Namun, siapa sangka jika ide munculnya teknologi dan bisnis tersebut ternyata bermula dari hobi dan passion yang sama terhadap action figure, model kit, dan beragam jenis mainan.
“Kami memulai inovasi ini dari sebuah passion dan hobi terhadap action figure, model kit dan beragam jenis mainan. Lalu, kami melihat konsumen atau penikmat action figure, model kit dan mainan menginginkan sesuatu hal yang berbeda. Apalagi, belakangan itu meningkat minat kostumisasi dari sebuah mainan sesuai keinginan dan gaya mereka. Makanya, karena perkembangan teknologi pemodelan 3D kian pesat, kami melihat ini menjadi peluang untuk berinovasi dengan menciptakan sebuah kostumisasi figure,” cerita Irene.
“Teknologi ini memang dapat mengkonversi dari hanya sebuah foto saja, artinya dari file 2 dimensi menjadi 3 dimensi sehingga memungkinkan file foto itu dicetak dalam bentuk figur 3 dimensi,” tutur Jo sambil menunjukkan beragam hasil figur 3 dimensi yang terpampang di gerai Menimize.
Ukuran yang bisa dihasilkan pun beraneka macam. Mulai dari skala terkecil yaitu 1:64 atau panjangnya 2,5 sentimeter (cm) untuk figure Whole (seluruh badan). Kalau untuk Toon atau Bust mulai dari skala 1:12 atau panjangnya 8 sentimeter (cm). Masing-masing ukuran tentunya dibanderol dengan harga berbeda. Tarifnya mulai dari Rp300 ribu.
Ia berharap kehadiran rangkaian produk dan inovasi teknologi dari Menimize dapat menjawab berbagai kebutuhan mulai dari 3D asset, kostumisasi figure, dan lainnya. “Lebih dari itu, kami juga berharap untuk dapat menjadi bagian dari kehidupan konsumen untuk mengabadikan beragam momen berharga atau bersejarah dalam bentuk figur mini,” lanjutnya.

Dari Hobi Jadi Cuan
Lahirnya studio pemodelan 3D pertama di Asia ini tak lepas dari kerja keras dua milenial Tanah Air yaitu Johanes Salikin dan Irene Nadya. Namun, siapa sangka jika ide munculnya teknologi dan bisnis tersebut ternyata bermula dari hobi dan passion yang sama terhadap action figure, model kit, dan beragam jenis mainan.
“Kami memulai inovasi ini dari sebuah passion dan hobi terhadap action figure, model kit dan beragam jenis mainan. Lalu, kami melihat konsumen atau penikmat action figure, model kit dan mainan menginginkan sesuatu hal yang berbeda. Apalagi, belakangan itu meningkat minat kostumisasi dari sebuah mainan sesuai keinginan dan gaya mereka. Makanya, karena perkembangan teknologi pemodelan 3D kian pesat, kami melihat ini menjadi peluang untuk berinovasi dengan menciptakan sebuah kostumisasi figure,” cerita Irene.
Lihat Juga :