Harga Batu Bara Makin Perkasa, Haruskah PLN Waspada?
Minggu, 11 Juli 2021 - 20:42 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan catatan tersebut, kata dia, hampir dapat dipastikan PLN sulit membukukan laba jika harga DMO batu bara ditiadakan. Sebab, tanpa harga DMO, akan ada tambahan biaya pembelian batu bara sebesar Rp78,95 triliun. Sementara, laba tertinggi yang dapat dibukukan PLN selama 2010-2020 tercatat hanya Rp11,57 triliun. "Artinya masih jauh di bawah potensi tambahan biaya yang sebesar Rp78,95 triliun tersebut," ujarnya.
Karena itu, Komaidi menilai pemerintah wajib mendukung perbaikan kinerja BUMN kelistrikan tersebut. Komaidi menilai, kebijakan TDL dan subsidi listrik pemerintah cenderung kurang konsisten, dan itu berdampak terhadap kinerja keuangan PLN yang menjadi kurang optimal. "Laba bersih yang berhasil dibukukan PLN relatif lebih rendah dari potensinya," cetusnya.
Data menunjukkan, selama 2010-2020, laba yang dibukukan PLN berkisar Rp3 triliun–Rp11,57 triliun. Laba tertinggi dibukukan PLN pada 2014 sebesar Rp11,06 trilun dan tahun 2018 sebesar Rp11,57 triliun. Sedangkan pada 2020 lalu PLN membukukan laba sebesar Rp5,99 triliun.
Di bagian lain, imbuh Komaidi, utang PLN yang pada 2020 dilaporkan mencapai Rp649 triliun juga perlu menjadi perhatian. Sisi positifnya, tegas dia, pertumbuhan utang PLN disertai dengan tumbuhnnya aset. "Selama 2010-2020, rata-rata pertumbuhan utang PLN sekitar 10,31% per tahun. Sementara, pada periode yang sama aset PLN ratarata tumbuh 17,93% per tahun," paparnya.
Namun, lanjut dia, data menunjukkan bahwa kemampuan PLN dalam menghasilkan laba dari aset yang dipergunakan relatif rendah. Selama periode 2010-2020 Return On Total Assets (ROA) PLN sebesar 0,40%, jauh di bawah ROA Singapore Power yang sekitar 6%. Dia menambahkan, standar industri menetapkan batasan ROA yang dikategorikan baik adalah 5,98%.
Karena itu, Komaidi menilai pemerintah wajib mendukung perbaikan kinerja BUMN kelistrikan tersebut. Komaidi menilai, kebijakan TDL dan subsidi listrik pemerintah cenderung kurang konsisten, dan itu berdampak terhadap kinerja keuangan PLN yang menjadi kurang optimal. "Laba bersih yang berhasil dibukukan PLN relatif lebih rendah dari potensinya," cetusnya.
Data menunjukkan, selama 2010-2020, laba yang dibukukan PLN berkisar Rp3 triliun–Rp11,57 triliun. Laba tertinggi dibukukan PLN pada 2014 sebesar Rp11,06 trilun dan tahun 2018 sebesar Rp11,57 triliun. Sedangkan pada 2020 lalu PLN membukukan laba sebesar Rp5,99 triliun.
Di bagian lain, imbuh Komaidi, utang PLN yang pada 2020 dilaporkan mencapai Rp649 triliun juga perlu menjadi perhatian. Sisi positifnya, tegas dia, pertumbuhan utang PLN disertai dengan tumbuhnnya aset. "Selama 2010-2020, rata-rata pertumbuhan utang PLN sekitar 10,31% per tahun. Sementara, pada periode yang sama aset PLN ratarata tumbuh 17,93% per tahun," paparnya.
Namun, lanjut dia, data menunjukkan bahwa kemampuan PLN dalam menghasilkan laba dari aset yang dipergunakan relatif rendah. Selama periode 2010-2020 Return On Total Assets (ROA) PLN sebesar 0,40%, jauh di bawah ROA Singapore Power yang sekitar 6%. Dia menambahkan, standar industri menetapkan batasan ROA yang dikategorikan baik adalah 5,98%.
Lihat Juga :