Duta Petani Andalan Bandung Barat Dukung Program Ekspor Kementan
Senin, 16 Agustus 2021 - 01:42 WIB
loading...
A
A
A
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor sektor pertanian pada Januari-Februari 2021 mengalami pertumbuhan positif sebesar 8,81% secara tahunan, sementara Februari 2021 tumbuh 3,16%.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan salah satu upaya BPPSDMP mendukung pertumbuhan ekonomi nasional adalah mengembangkan 2,5 juta petani milenial di seluruh Indonesia.
(Baca juga:Plt Gubernur Sulsel Dorong Ekspor Pertanian Lampaui Pertambangan)
“Mereka tergolong unggul. Usia rata-rata di bawah 40 tahun, sebagai tumpuan masa depan pertanian. Melalui petani milenial, kita akan tingkatkan produktivitas dan kualitas produk pertanian hingga pada akhirnya dapat memasok kebutuhan mancanegara dengan produk pertanian Indonesia,” kata Dedi Nursyamsi.
Salah satunya adalah Ulus Pirnawan yang memilih produk hortikultura khususnya baby buncis yang biasa dimasak sebagai olahan tumis dan sayur. Ulus memilih tanam buncis karena nilai jualnya tinggi dan potensi pasar luar negeri cukup luas, khususnya ke Singapura.
Kendati demikian, Ulus tidak mengabaikan kebutuhan Toko Tani Indonesia (TTI) dan masyarakat di sekitar Lembang. “Kami tetap menanam dan panen sayur-mayur seperti buncis, selada, cabai, tomat, timun, sawi, bayam jepang, brokoli dan lainnya. Saat ini produksi kami meningkat sekitar 30%, karena permintaan meningkat,” kata Ulus.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan salah satu upaya BPPSDMP mendukung pertumbuhan ekonomi nasional adalah mengembangkan 2,5 juta petani milenial di seluruh Indonesia.
(Baca juga:Plt Gubernur Sulsel Dorong Ekspor Pertanian Lampaui Pertambangan)
“Mereka tergolong unggul. Usia rata-rata di bawah 40 tahun, sebagai tumpuan masa depan pertanian. Melalui petani milenial, kita akan tingkatkan produktivitas dan kualitas produk pertanian hingga pada akhirnya dapat memasok kebutuhan mancanegara dengan produk pertanian Indonesia,” kata Dedi Nursyamsi.
Salah satunya adalah Ulus Pirnawan yang memilih produk hortikultura khususnya baby buncis yang biasa dimasak sebagai olahan tumis dan sayur. Ulus memilih tanam buncis karena nilai jualnya tinggi dan potensi pasar luar negeri cukup luas, khususnya ke Singapura.
Kendati demikian, Ulus tidak mengabaikan kebutuhan Toko Tani Indonesia (TTI) dan masyarakat di sekitar Lembang. “Kami tetap menanam dan panen sayur-mayur seperti buncis, selada, cabai, tomat, timun, sawi, bayam jepang, brokoli dan lainnya. Saat ini produksi kami meningkat sekitar 30%, karena permintaan meningkat,” kata Ulus.
Lihat Juga :