Ekonomi Afghanistan Dibangun dari Ketergantungan Bantuan, Bagaimana Saat Dipimpin Taliban?

Jum'at, 20 Agustus 2021 - 05:24 WIB
loading...
A A A
Mengambil contoh dua negara lain dari kawasan Asia Selatan, keduanya dengan populasi yang agak lebih kecil seperti Nepal telah berhasil 10 kali lebih banyak dan Sri Lanka 50 kali lebih banyak selama periode yang sama.

Bank Dunia menggambarkan sektor swasta Afghanistan sebagai ganng sempit. Pekerjaan terkonsentrasi di pertanian dengan produktivitas rendah, dimana 60% rumah tangga mendapatkan penghasilan dari pertanian.

Negara ini juga disebut memiliki ekonomi gelap. Ada penambangan ilegal dan tentu saja produksi opium dan kegiatan terkait seperti penyelundupan. Perdagangan narkoba telah menjadi sumber pendapatan penting bagi Taliban.

Kekayaan Mineral

Banyak yang mengatakan bahwa, ekonomi Afghanistan telah tumbuh sejak invasi AS pada tahun 2001. Namun angka-angka terkait Afghanistan tidak dapat dipercaya, tetapi apa yang mereka tunjukkan menurut Bank Dunia, adalah pertumbuhan tahunan secara rata-rata lebih dari 9% dalam 10 tahun dari 2003.

Setelah itu melambat (yang mungkin mencerminkan tingkat bantuan yang lebih rendah) ke tingkat rata-rata 2,5% antara 2015 dan 2020. Baca Juga: Biden Mengaku Ragu Taliban Telah Berubah

Negara ini memang memiliki sumber daya alam yang sangat besar. Namun dalam konteks dengan kondisi keamanan regional yang terjami serta minimnya korupsi, menjadikannya menarik bagi bisnis internasional.

Ada beberapa jenis mineral yang tersedia dalam jumlah besar, termasuk tembaga, kobalt, batubara dan bijih besi. Ada juga minyak dan gas serta batu mulia.

Salah satu dengan potensi yang sangat mencolok adalah lithium, logam yang digunakan dalam baterai untuk perangkat mobile dan mobil listrik. Akan menjadi sangat penting karena industri motor sedang melakukan transisi ke bentuk transportasi nol-karbon.

Kembali pada tahun 2010, seorang jenderal top AS mengatakan kepada New York Times bahwa potensi mineral Afghanistan "menakjubkan" dengan "banyak ifs, tentu saja".

Surat kabar itu juga melaporkan bahwa memo internal Departemen Pertahanan AS mengatakan negara itu bisa menjadi "Arab Saudinya lithium".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
Perang AS-Israel Lawan...
Perang AS-Israel Lawan Iran Bikin Badai Ekonomi ke Seluruh Dunia, Sektor Bisnis Tekor Rp441 Triliun
Utang Dunia Tembus Rekor...
Utang Dunia Tembus Rekor Gila Rp6.168 Kuadriliun! Investor Mulai Buang AS?
Gubernur BI Peringatkan...
Gubernur BI Peringatkan Dunia Tak Baik-baik Saja, Dihantui 3 Tantangan Besar
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Rekomendasi
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
Sony Sanjaya Beberkan...
Sony Sanjaya Beberkan Ada Pengadaan Fiktif CCTV dan Sidik Jari Rp300 Miliar di Program MBG
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Berita Terkini
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
Infografis
Taliban Afghanistan...
Taliban Afghanistan Rayakan Tumbangnya Bashar Al Assad di Suriah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved