Ekonomi Afghanistan Dibangun dari Ketergantungan Bantuan, Bagaimana Saat Dipimpin Taliban?

Jum'at, 20 Agustus 2021 - 05:24 WIB
loading...
A A A
Namun potensi tersebut tidak ada yang mengeksploitasi. Dimana orang-orang Afghanistan melihatnya sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan.

Kekuatan Asing

Ada banyak laporan bahwa China ingin terlibat. Tampaknya mereka memiliki hubungan yang lebih baik dengan Taliban daripada kekuatan Barat, sehingga mungkin memiliki keuntungan jika rezim baru memang memegang kekuasaan.

Namun, perusahaan-perusahaan China belum memenangkan kontrak untuk mengembangkan operasi tembaga dan minyak. Tetapi mereka sepertinya enggan untuk berkomitmen kecuali merasa masalah keamanan dan korupsi ditangani dengan baik.

Pertanyaan kunci bagi setiap calon investor yang bersaing keras, apakah itu China atau dari manapun. Apakah Taliban lebih mampu daripada pemerintah Afghanistan sebelumnya untuk menciptakan iklim investasi yang dibutuhkan.

Faktor lain yang mungkin mempengaruhi ekonomi adalah pekerjaan perempuan. Dalam dekade terakhir persentase populasi perempuan di atas 15 tahun dalam pekerjaan telah meningkat secara dramatis.

Meskipun pada 22% di 2019 masih rendah menurut standar internasional. Di bawah Taliban, belum diketahui apakah perubahan akan terus terjadi, jika tidak maka berpotensi semakin merusak prospek ekonomi.

Dalam waktu dekat, akan ada banyak ketidakpastian tentang stabilitas sektor keuangan. Banyak orang telah mencoba menarik uang mereka dari bank.

Afghan Islamic Press yang berbasis di Pakistan melaporkan seorang juru bicara Taliban menawarkan jaminan kepada pemilik bank, penukar uang, pedagang dan penjaga toko bahwa kehidupan dan properti mereka akan dilindungi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
Perang AS-Israel Lawan...
Perang AS-Israel Lawan Iran Bikin Badai Ekonomi ke Seluruh Dunia, Sektor Bisnis Tekor Rp441 Triliun
Utang Dunia Tembus Rekor...
Utang Dunia Tembus Rekor Gila Rp6.168 Kuadriliun! Investor Mulai Buang AS?
Gubernur BI Peringatkan...
Gubernur BI Peringatkan Dunia Tak Baik-baik Saja, Dihantui 3 Tantangan Besar
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Rekomendasi
AHWA dan Masa Depan...
AHWA dan Masa Depan Kepemimpinan NU
BMW Mengkonfirmasi M3...
BMW Mengkonfirmasi M3 Generasi Berikutnya Tidak Akan Gunakan PHEV
Muktamar NU Harus Jadi...
Muktamar NU Harus Jadi Momentum Pemurnian, Bukan Arena Perebutan Kekuasaan
Berita Terkini
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
7 BUMN Kolaborasi Gelar...
7 BUMN Kolaborasi Gelar Blue Impact, Lestarikan Terumbu Karang dan Berdayakan Masyarakat Pesisir
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
Infografis
Taliban Afghanistan...
Taliban Afghanistan Rayakan Tumbangnya Bashar Al Assad di Suriah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved