Dikuasai Taliban, Ekonomi Afghanistan Diramal Makin Suram

Selasa, 24 Agustus 2021 - 17:26 WIB
loading...
Dikuasai Taliban, Ekonomi...
Sejumlah ibu dan anak melarikan diri ke Bandara Kabul, Afghanistan pada 16 Agustus lalu. FOTO/REUTERS
A A A
LONDON - Taliban yang merebut kekuasaan di Afghanistan telah mendorong salah satu negara termiskin di dunia itu kembali menjadi pusat perhatian. Kekerasan, ketidakstabilan, dan korupsi selama bertahun-tahun telah melumpuhkan ekonomi Afghanistan, mempersulit bisnis untuk berkembang dan membuat sebagian besar penduduk tetap miskin.

Setelah menyusut 2% pada tahun 2020 karena pandemi COVID-19, IMF memperkirakan produk domestik bruto (PDB) berada di jalur pemulihan ekonomi dan tumbuh sebesar 2,7% tahun ini karena mobilitas dan perdagangan mulai dilanjutkan. Itu sejalan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 2,5% dalam beberapa tahun terakhir, tetapi jauh di bawah tingkat satu digit yang diskalakan dalam dekade setelah invasi AS tahun 2001.

Baca Juga: Sekutu AS Desak Biden Perpanjang Waktu Evakuasi di Afghanistan

Pergolakan terakhir membuat prospek ekonomi negara itu semakin genting. Fitch pada hari Jumat lalu memperkirakan ekonomi Afghanistan akan mengalami kontraksi tajam turun hingga 20%. Lebih suramnya lagi, aliran remitansi dan bantuan internasional yang diandalkan Afghanistan di masa depan semakin tidak pasti. Dikutip dari Reuters, Selasa (24/8) Bank Dunia melaporkan, aliran remitasi dari luar ke Afghanistan mencapai USD789 juta pada 2020 atau sekitar 4% dari PDB.

Asian Development Bank (ADB) melaporkan sekitar dua pertiga penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, dengan pendapatan kurang dari USD1,90 per hari atau naik dari 55% pada 2017. Pertanian adalah sumber pendapatan utama bagi sebagian besar warga Afghanistan dan ekspor utama negara tersebut.

Menurut Organisasi Perdagangan Dunia, Afghanistan mengekspor barang senilai USD783 juta pada 2020, penurunan hampir 10% dibandingkan tahun 2019. Buah-buahan kering, kacang-kacangan, dan tanaman obat merupakan sebagian besar ekspor, terutama ke India dan Pakistan. Tetapi impor minyak, makanan, dan mesin yang besar berarti Afghanistan mengalami defisit perdagangan yang amat besar.

Meskipun memiliki salah satu tingkat utang terendah di dunia relatif terhadap PDB, Afghanistan dianggap berisiko tinggi gagal bayar bahkan sebelum gejolak saat ini, mengingat ketergantungannya yang tinggi pada hibah dan pinjaman lunak yang menyumbang sekitar sepertiga dari PDB.

Selain kemelut politik dan keamanan di dalam negeri, pandemi COVID-19 membuat keuangan negara tersebut semakin terpuruk. Untuk pemulihan ekonomi Afghanistan dari pandemi, IMF pada bulan November menggelontorkan USD370 juta melalui fasilitas kredit yang diperpanjang, ditindaklanjuti dengan janji donor internasional sebesar USD12 miliar dalam bentuk bantuan sipil.

IMF mengatakan pada hari Rabu bahwa Afghanistan tidak akan dapat mengakses sumber daya IMF, termasuk alokasi baru cadangan Hak Penarikan Khusus, karena ketidakpastian atas pengakuan pemerintah Taliban. Selain IMF dan pemberi pinjaman multilateral lainnya, Arab Saudi dan Kuwait termasuk di antara kreditur bilateral.

Berdasarkan laporan IMF, stok utang luar negeri resmi Afghanistan diproyeksikan mencapai USD1,7 miliar pada 2021, sekitar 8,6% dari PDB. Tingkat utang tetap relatif rendah sejak negara tersebut menerima keringanan utang lebih dari satu dekade lalu di bawah Inisiatif Negara-Negara Miskin Berutang Besar (HIPC), serta pembatalan utang tambahan dari kreditur Paris Club.

Pengambilalihan Taliban kemungkinan akan menggagalkan rencana untuk memulai pasar utang Afghanistan dan memanfaatkan tabungan domestik. Pihak berwenang telah berupaya untuk menerbitkan sukuk perdana pada awal 2022.

Baca Juga: 100 Pasukan Khusus Afghanistan Diam-diam Diterbangkan ke Inggris

Inflasi telah dijinakkan menyusul lonjakan besar harga pangan pada April tahun lalu, tetapi pemulihan permintaan berikutnya dan panen yang lemah diperkirakan akan mendorong harga lebih tinggi. Pejabat DAB Ajmal Ahmady yang telah meninggalkan negara itu, mengatakan melalui Twitter bahwa ia mengharapkan Taliban untuk menerapkan kontrol modal yang lebih ketat dan membatasi akses dolar. "Sementara depresiasi mata uang lebih lanjut akan memicu kenaikan inflasi yang akan merugikan orang miskin karena harga pangan naik," kata dia.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bank-bank Afghanistan...
Bank-bank Afghanistan Kehabisan Dolar AS, Beberapa Terpaksa Tutup
Sistem Perbankan Afghanistan...
Sistem Perbankan Afghanistan Hampir Runtuh Bikin Taliban Tertekan
Taliban Berkuasa, Bos...
Taliban Berkuasa, Bos Bank Afghanistan Bilang Semua Sektor Hampir Runtuh
Deretan Potensi Kekayaan...
Deretan Potensi Kekayaan Alam Afghanistan yang Luar Biasa, Sejak Dulu Jadi Incaran
Ekonomi Lumpuh, Afghanistan...
Ekonomi Lumpuh, Afghanistan Hadapi Ancaman Kelaparan
Di Ambang Kolaps, Fitch...
Di Ambang Kolaps, Fitch Solutions Beri Gambaran Mengerikan Soal Ekonomi Afghanistan
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Taliban Afghanistan...
Taliban Afghanistan Terbuka untuk Dialog setelah Pakistan Bom Kota-kota Besar
Taliban Melarang Film,...
Taliban Melarang Film, Bioskop Bersejarah Afghanistan Dihancurkan
Rekomendasi
Revolusi AI di Layar...
Revolusi AI di Layar Kaca: TV Premium LG 2026 Mengerti Logat Indonesia
Sejumlah GOR di Jakarta...
Sejumlah GOR di Jakarta Disiapkan untuk Warga Nobar Piala Dunia 2026
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
Berita Terkini
Pertamina EP Cepu Catat...
Pertamina EP Cepu Catat Kinerja Positif, Siap Percepat Transisi Energi
Penyaluran Pindar Tembus...
Penyaluran Pindar Tembus Rp1.388 Triliun, 40% Mengalir ke UMKM
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Tipis, Segram Jadi Rp2,71 Juta
Free Float Sentuh 25,7%,...
Free Float Sentuh 25,7%, Saham TPIA Kian Menarik Investor Global
Bank Dunia Beri Peringatan...
Bank Dunia Beri Peringatan Keras usai Rupiah Terpuruk ke Rp18.000
Inovasi Petrokimia Gresik...
Inovasi Petrokimia Gresik Ciptakan Nilai Tambah Rp154 Miliar
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved