Pasar Tanah Abang Mulai Ramai, Omzet Pedagang Gamis dan Sajadah Masih Seret
Minggu, 29 Agustus 2021 - 22:15 WIB
loading...
A
A
A
Meski posisi toko Ninden Gamis miliknya cukup strategis, Sultan mengeluh sepi pembeli. Walaupun pembukaan pusat perbelanjaan membuatnya sedikit lega, tetap saja daya beli belum terlihat. Jika dinominalkan, omzet toko gamis miliknya cuma berkisar Rp10 juta saja per minggu selama pandemi.
Sementara itu Kustiwi (50), pedagang di toko Henny Sajadah yang menjual alat sholat di Pasar Tanah Abang Blok A mengatakan, dirinya tetap bersyukur. Pasalnya, di tengah kondisi yang tidak menentu dan banyaknya korban meninggal akibat Covid-19, dirinya selalu sehat dan dagangannya tetap laris. “Ya walaupun sepi tapi kita para pedagang tetap bersyukur, sehat, cuma kalau bisa corona cepat selesai biar semuanya normal,” ujarnya kepada MPI.
Adapun untuk omzet, Kustiwi mengaku ada penurunan hingga 50 persen. Selain berjualan di Tanah Abang, dia juga mencoba mengiklankan dagangannya di media sosial seperti Facebook.
Pedagang sajadah grosir yang tinggal di Rawa Belong ini juga mengaku tidak mendapat bantuan sosial karena ada masalah administrasi. Kustiwi pun mencoba berfikir positif bahwa rezeki akan tetap datang padanya jika mau berusaha.
“Di (lantai) atas juga pada sepi kan, ya kita nggak pungkiri rezeki orang kan beda-beda, ada yang punya utang atau nggak punya aset, yang penting kita pergi juga baca Bismillah saja ada rezeki. Saya berdoa aja,” tuturnya.
Sementara itu Kustiwi (50), pedagang di toko Henny Sajadah yang menjual alat sholat di Pasar Tanah Abang Blok A mengatakan, dirinya tetap bersyukur. Pasalnya, di tengah kondisi yang tidak menentu dan banyaknya korban meninggal akibat Covid-19, dirinya selalu sehat dan dagangannya tetap laris. “Ya walaupun sepi tapi kita para pedagang tetap bersyukur, sehat, cuma kalau bisa corona cepat selesai biar semuanya normal,” ujarnya kepada MPI.
Adapun untuk omzet, Kustiwi mengaku ada penurunan hingga 50 persen. Selain berjualan di Tanah Abang, dia juga mencoba mengiklankan dagangannya di media sosial seperti Facebook.
Pedagang sajadah grosir yang tinggal di Rawa Belong ini juga mengaku tidak mendapat bantuan sosial karena ada masalah administrasi. Kustiwi pun mencoba berfikir positif bahwa rezeki akan tetap datang padanya jika mau berusaha.
“Di (lantai) atas juga pada sepi kan, ya kita nggak pungkiri rezeki orang kan beda-beda, ada yang punya utang atau nggak punya aset, yang penting kita pergi juga baca Bismillah saja ada rezeki. Saya berdoa aja,” tuturnya.
Lihat Juga :