Temuan Investigasi: Pemimpin Bank Dunia Paksa Staf Katrol Peringkat China dan Arab Saudi

Sabtu, 18 September 2021 - 08:10 WIB
loading...
Temuan Investigasi:...
Investigasi menemukan para pemimpin Bank Dunia menekan kepada staf untuk mengubah data guna meningkatkan peringkat China dan Arab Saudi pada laporan Doing Business edisi 2018 dan 2020. Foto/Ilustrasi
A A A
WASHINGTON - Bank Dunia mengatakan akan berhenti menerbitkan laporan ekonomi tahunan Doing Business setelah penyelidikan independen menemukan para pemimpin lembaga keuangan itu memberikan tekanan kepada staf untuk mengubah data guna meningkatkan peringkat China dan Arab Saudi pada laporan edisi 2018 dan 2020.

Sebelumnya Bank Dunia telah menugaskan firma hukum WilmerHale untuk melakukan penyelidikan. Penyelidik menemukan CEO Kristalina Georgieva saat itu menekan tim Doing Business pada 2017 untuk mengubah metodologi laporan atau membuat perubahan spesifik pada poin data guna meningkatkan peringkat China di edisi 2018.

"Ini terjadi setelah pejabat pemerintah China berulang kali menyatakan keprihatinan kepadanya dan Presiden Bank Dunia saat itu Jim Yong-kim atas peringkat negara itu," menurut investigasi 16 halaman yang dirilis oleh WilmerHale yang dikutip dari CNN, Sabtu (18/9/2021).

Baca Juga: Pukulan Finansial Terbaru Bagi Taliban, Kini Giliran Bank Dunia Bekukan Bantuan Buat Afghanistan

Pada saat itu, menurut penyelidikan tersebut, Georgieva berada di tengah-tengah negosiasi atas kampanye peningkatan modal di mana China diharapkan memainkan peran kunci.

Georgieva terlibat langsung dalam meningkatkan peringkat China, menurut investigasi independen, yang mengatakan bahwa dalam satu pertemuan, CEO saat itu menghukum Direktur Bank Negara saat itu karena salah mengelola hubungan Bank dengan China dan gagal untuk menghargai pentingnya laporan Doing Business ke negara tersebut.

"Pemimpin tim Doing Business akhirnya meningkatkan peringkat China dalam survei sebanyak tujuh peringkat menjadi 78 dengan mengidentifikasi titik data yang dapat mereka modifikasi, termasuk memberi negara itu lebih banyak kredit untuk undang-undang transaksi aman China," menurut laporan WilmerHale.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Duo Zou Bersaudara Asal...
Duo Zou Bersaudara Asal China Mendadak Jadi Miliarder Gara-gara Robot Humanoid, Begini Kisahnya
Dulu Rakyatnya Ngungsi...
Dulu Rakyatnya Ngungsi ke RI, Kini Vietnam Naik Kelas Lampaui Indonesia
Vietnam dan Filipina...
Vietnam dan Filipina Bersaing Jadi Raja ASEAN, Mengapa Indonesia Tertinggal?
Krisis Keuangan, PBB...
Krisis Keuangan, PBB Terancam Bangkrut
TikTok soal Kabar PHK...
TikTok soal Kabar PHK 90% Karyawan Tokopedia: Ini Bukan Keputusan Mudah
Bank Dunia Naikkan Status...
Bank Dunia Naikkan Status Vietnam dan Filipina Jadi Negara Berpendapatan Menengah Atas, Indonesia Kalah
Ini Pemicu Utama Serangan...
Ini Pemicu Utama Serangan AS ke Iran
China Tembakkan Rudal...
China Tembakkan Rudal Balistik Antarbenua Berkemampuan Nuklir, 6 Negara Protes
China Hukum Mati Mantan...
China Hukum Mati Mantan Pejabat karena Terima Suap Rp5,8 Triliun
Rekomendasi
Lebih dari 2 Juta Pelayat...
Lebih dari 2 Juta Pelayat Hadiri Prosesi Pemakaman Khamenei di Najaf Irak
Fangfang Ungkap Vicky...
Fangfang Ungkap Vicky Prasetyo Sudah Akui Anak dalam Kandungannya
VAR Untungkan Argentina?...
VAR Untungkan Argentina? Pakar Soroti Inkonsistensi Wasit
Berita Terkini
Japan-ASEAN Startup...
Japan-ASEAN Startup Business Matching Fair 2026, Danamon Dukung Pertumbuhan Startup RI
Said Iqbal Berhasil...
Said Iqbal Berhasil Bertemu Purbaya: Sodorkan Draf Reformasi Pajak JHT, Buruh Batal Demo Besok
Maskapai Wajib Pakai...
Maskapai Wajib Pakai Avtur Campuran Minyak Nabati 1% Mulai 2027, Apa Efeknya ke Harga Tiket?
Fokus Tumbuh Berkelanjutan,...
Fokus Tumbuh Berkelanjutan, Pegadaian Perkuat Strategi Lewat Sales Town Hall 2026
Rebut Harta Karun Dinasti...
Rebut Harta Karun Dinasti Assad, Prancis Pulangkan Aset Rp1 Triliun ke Suriah!
Harga Emas Jatuh Rp14...
Harga Emas Jatuh Rp14 Ribu per Rabu 8 Juli 2026, Buyback Ambrol Rp21.000
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved