Pakar Ketenagalistrikan Ungkap Tantangan Proyek Kabel Laut Australia-Singapura

Jum'at, 15 Oktober 2021 - 11:08 WIB
loading...
Pakar Ketenagalistrikan...
Proyek kabel listrik bawah laut Australi-Singapura sepanjang 4.200 km yang melintasi perairan Indonesia bakal menghadapi tantangan luar biasa. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Belum lama ini, Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan mengumumkan bahwa Indonesia akan menerima investasi USD2,58 miliar (sekitar Rp36 triliun) dari Australia. Investasi tersebut untuk mendukung pembangunan kabel listrik bawah laut Australia-Singapura yang melintasi perairan Indonesia.

Sun Cable, perusahaan yang melaksanakan proyek tersebut menyebutkan bahwa investasi senilai USD2,5 miliar itu berupa pengadaan peralatan melalui barang-barang seperti trafo, switchgear, dan kabel darat. Jika terealisasi, kabel listrik bawah laut sepanjang 4.200 km yang membentang dari Darwin, Australia ke Singapura melalui Laut Timor dan perairan Indonesia itu akan menjadi kabel listrik bawah laut terpanjang di dunia.

Baca Juga: Dapat Restu Indonesia, Kapasitas Proyek PLTS Raksasa Australia Digenjot 40%

Namun, bagaimana dengan realisasinya? Pakar ketenagalistrikan yang juga anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2021–2025 Herman Darnel Ibrahim memastikan banyak sekali tantangan yang akan dihadapi dalam mewujudkan proyek spektakuler ini.

Herman mengungkapkan, sampai saat ini, kabel listrik bawah laut High Voltage Direct Current (HVDC) terpanjang di dunia adalah North Sea Link yang menghubungkan Inggris-Norwegia sepanjang 720 km. Dengan panjang nyaris 6 kali dari North Sea Link, kabel listrik bawah laut Australia-Singapura jelas butuh kerja dan investasi luar biasa.

Sebagai acuan, Herman merujuk pada kajian "Estimasi Biaya Listrik PLTS Sumba dengan Transmisi HVDC 3 GW Sumba–Paiton", dimana berdasarkan kajian itu jalur HVDC dari Sumba, NTT ke Paiton, Jawa Timur, untuk kapasitas listrik energi surya sebesar 3 GW dengan kabel bawah laut kira-kira sepanjang 760 km, dibutuhkan biaya USD42,15 miliar atau sekitar Rp611 triliun.

"Kajian ini menjelaskan bahwa proyek transmisi bawah laut yang membentang dari Australia ke Singapura untuk mengirimkan listrik dari tenaga surya dipastikan menelan investasi yang tidak kecil," ujar Direktur Transmisi & Distrbusi PLN periode 2003-2008 itu, Jumat (15/10/2021).

Herman menyampaikan pula bahwa karakteristik kabel bawah laut itu berisiko tinggi. Dia mencontohkan, jika misalnya rusak akibat terkena jangkar, maka tidak hanya kerugian kabel, tetapi penyediaan listrik skala besar pun akan terganggu. Selain itu, kata dia, masih banyak potensi gangguan lainnya yang perlu dipertimbangkan.

Dia menceritakan, Malaysia pada 2008 ingin membangun kabel bawah laut untuk mengalirkan listrik dari PLTA Serawak ke Semenanjung sepanjang 800 km. Namun, setelah mempertimbangkan risiko dan biayanya, Malaysia menunda rencana tersebut. "Kabel bawah laut bisa saja dibangun, tetapi hanya sebagai daya cadangan, bukan sebagai suplai utama," tandasnya.

Tantangan lainnya, lanjut dia, konstruksi kabel bahaw laut tak boleh ada sambungan. Kabel dari pabrik harus langsung dibawa dan digelar di kapal. "Bagaimana kira-kira cari solusi agar kabel sepanjang 4.200 km tidak ada sambungan di dalam air? Apakah pasokan akan aman, karena itu rawan terkena jangkar, juga sabotase," tuturnya.

Baca Juga: Media Asing Sorot Suara Azan di Jakarta, Begini Aturan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid

Lebih lanjut, berdasarkan hitung-hitungannya, Herman Darnel memperkirakan tarif listrik PLTS yang akan dikirimkan melalui kabel bawah laut ke Singapura bisa di atas USD25 sen per kWh. Rinciannya adalah untuk kabel bawah laut sepanjang 4.200 km ada biaya tambahan USD14 sen per kWh. Sementara harga listrik dari PLTS sekitar USD4 sen hingga USD8 sen per kWh. Kemudian, ada pula biaya battery storage dan biaya lainnya.

"Jadi, tarif listrik tenaga surya yang dikirim dari Australia ke Singapura itu bisa mencapai USD28 sen per kWh (Sekitar Rp4.060 per kWh). Sebagai pembanding, tarif dasar listrik di Indonesia di kisaran Rp1.400 per kWh," katanya.

Artinya, selain persiapan dari sisi manufaktur, pengangkutan kabel sepanjang 4.200 km dari pabrikan menuju ke laut, penggelaran kabel di bawah laut, potensi sabotase, kehilangan daya, risiko terkena jangkar kapal, dan potensi-potensi gangguan lainnya, semua ini tentu akan kian menambah biaya investasinya.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Krisis Hormuz Kuras...
Krisis Hormuz Kuras Cadangan Minyak Singapura ke Titik Terendah sejak 13 Tahun
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
10 Rute Penerbangan...
10 Rute Penerbangan Internasional Tersibuk di Dunia, Jakarta-Singapura Masuk Daftar
One Global Capital Gelar...
One Global Capital Gelar Roadshow, Hadir di Kota Utama Indonesia dan Asia
Mengulik Biang Kerok...
Mengulik Biang Kerok Terkaparnya Rupiah Lawan Dolar Singapura ke Rp14.000, Sesuai Ramalan?
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Pelajar Tewas Tersangkut...
Pelajar Tewas Tersangkut Kabel, DPRD Desak Pemprov DKI Jakarta Tata Ulang Pengelolaan Utilitas
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Rekomendasi
Ilmuwan Mengembangkan...
Ilmuwan Mengembangkan Jaket Penghasil Air dari Udara Sekitar
Sidang Putusan Perkara...
Sidang Putusan Perkara Chromebook Digelar 30 Juni, Nadiem: Saya Harap Keputusannya Bebas
Nanik S Deyang Bakal...
Nanik S Deyang Bakal Diperiksa di Kasus Dugaan Korupsi MBG? Kejagung: Iya Berpotensi
Berita Terkini
Purbaya Buka Suara Soal...
Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok
Potensi Sensus Ekonomi...
Potensi Sensus Ekonomi Melahirkan Ribuan Keputusan
Sah! Potongan Komisi...
Sah! Potongan Komisi Ojol Jadi 8% per Juli 2026, Aplikator Sudah Sepakat
Prudential Syariah Raih...
Prudential Syariah Raih Penghargaan Brand of the Year 2026
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
IHSG Hari Ini Ditutup...
IHSG Hari Ini Ditutup Merosot 0,25% ke 6.101, Diwarnai Pelemahan 398 Saham
Infografis
Pakar IT Ungkap Sejumlah...
Pakar IT Ungkap Sejumlah Kelemahan Sistem Tilang Elektronik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved