Kemendag Potong Rantai Distibusi, Harga Bapok Diyakini Terkendali
Rabu, 22 April 2020 - 10:43 WIB
loading...
Upaya Kemendag memangkas distribusi diyakini bakal membuat harga bahan pokok jelang Ramadhan hingga Lebaran stabil dan terjaga. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Langkah Kementerian Perdagangan (Kemendag) melakukan kebijakan pengendalian harga dengan memotong rantai distribusi diyakini membuat harga beras terjangkau. Dengan tidak menaikkan harga eceran tertinggi (HET) bagi konsumen akhir, tetapi menaikkan harga pembelian pemerintah di tingkat petani dinilai akan menjaga harga bahan pokok menjelang Ramadhan dan Idul Fitri tetap stabil.
Ekonom yang juga dosen Perbanas Institute Piter Abdullah menjelaskan, pada Ramadhan dan Lebaran tahun ini kondisi juga sangat berbeda dengan adanya kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) dan juga larangan mudik. Hal ini diprediksi membuat permintaan tidak akan melonjak.
Terlebih, kata Piter, daya beli saat ini juga cenderung melemah akibat dampak wabah Covid-19. Menurut dia, kelompok masyarakat bawah yang saat ini banyak menjadi korban PHK atau pekerja sektor informal yang pendapatan menurun di tengah wabah Covid-19 adalah pendorong utama peningkatan konsumsi di saat Ramadhan dan Lebaran. Namun, adanya wabah Covid-19 membuat daya beli kelompok yang biasanya memacu pertumbuhan konsumsi ini ini turun. Apalagi dengan adanya pelarangan mudik, diyakini lonjakan permintaan tidak akan terjadi tahun ini.
"Di sisi lain pemerintah juga sudah berkomitmen menjaga pasokan supply selama wabah dan terutama lagi menyambut Ramadhan dan Lebaran. Keran impor untuk produk pangan dibuka," ujar Piter kepada wartawan, Rabu (22/4/2020).
Piter optimis, didorong kebijakan pemerintah juga sinergi dengan kalangan industri, maka berbagai kebutuhan masyarakat akan mampu dipenuhi. Ia juga yakin, pada masa Ramadhan, beras dan gula tidak akan langka, pasokan cukup, karena permintaan tidak mengalami lonjakan.
Ekonom yang juga dosen Perbanas Institute Piter Abdullah menjelaskan, pada Ramadhan dan Lebaran tahun ini kondisi juga sangat berbeda dengan adanya kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) dan juga larangan mudik. Hal ini diprediksi membuat permintaan tidak akan melonjak.
Terlebih, kata Piter, daya beli saat ini juga cenderung melemah akibat dampak wabah Covid-19. Menurut dia, kelompok masyarakat bawah yang saat ini banyak menjadi korban PHK atau pekerja sektor informal yang pendapatan menurun di tengah wabah Covid-19 adalah pendorong utama peningkatan konsumsi di saat Ramadhan dan Lebaran. Namun, adanya wabah Covid-19 membuat daya beli kelompok yang biasanya memacu pertumbuhan konsumsi ini ini turun. Apalagi dengan adanya pelarangan mudik, diyakini lonjakan permintaan tidak akan terjadi tahun ini.
"Di sisi lain pemerintah juga sudah berkomitmen menjaga pasokan supply selama wabah dan terutama lagi menyambut Ramadhan dan Lebaran. Keran impor untuk produk pangan dibuka," ujar Piter kepada wartawan, Rabu (22/4/2020).
Piter optimis, didorong kebijakan pemerintah juga sinergi dengan kalangan industri, maka berbagai kebutuhan masyarakat akan mampu dipenuhi. Ia juga yakin, pada masa Ramadhan, beras dan gula tidak akan langka, pasokan cukup, karena permintaan tidak mengalami lonjakan.
Lihat Juga :