Bengkel UMKM Rugi Rp62,5 Triliun Akibat Pandemi Covid-19
Minggu, 31 Oktober 2021 - 19:55 WIB
loading...
Ketua Umum PBOIN Hermas E Wibowo (tiga kiri) bersama Dewan Pengawas PBOIN Teguh Boediyana (dua kiri) dan Dewan Penasihat Anton Supit (kiri) saat deklarasi PBOIN di Jakarta, Minggu (31/10/2021).
A
A
A
JAKARTA - Persatuan Bengkel Otomotif Indonesia (PBOIN) memperkirakan potensi pendapatan pengusaha bengkel kendaraan, mekanik dan penjualan spare part otomotif Indonesia hilang Rp130,04 triliun sepanjang 2021, karena terdampak pandemi Covid-19. Khusus untuk sektor bengkel otomotif UMKM, mekanik lepas dan penjualan spare part, potensi pendapatan yang hilang mencapai Rp62,5 triliun.
Ketua Umum PBOIN Hermas E Wibowo mengatakan penurunan potensi pendapatan terjadi akibat menurunnya transaksi perdagangan jasa perawatan dan perbaikan kendaraan sepanjang Januari-Oktober 2021, juga perdagangan spare part atau suku cadang.
(Baca juga:Cara Mitsubishi Hapus Mitos Mahalnya Biaya Servis di Bengkel Resmi)
Di masa pandemi, kata Hermas, mayoritas bengkel mobil, motor, body repair dan bagian-bagiannya tutup. “Terpaksa mem-PHK sebagian pekerja, meliburkan sementara, atau memotong gaji agar bisa bertahan. Khusus mekanik sebagian ada yang menganggur atau bekerja serabutan,” kata Hermas di sela acara Deklarasi PBOIN di Jakarta, Minggu (31/10/2021).
Menurut Herman, rata-rata penurunan pendapatan bengkel otomotif tahun 2021 selama pandemi berkisar 40%. Khusus bagi bengkel UMKM, biaya sewa bengkel masih tetap, tidak ada pengurangan, bahkan pemilik lokasi ada yang malah menaikkan biaya sewa. Padahal, 95% bengkel otomotif UMKM di perkotaan lokasinya kontrak.
(Baca juga:Industri Bengkel Amerika dan Jepang Terpukul Kelangkaan Suku Cadang)
Ketua Umum PBOIN Hermas E Wibowo mengatakan penurunan potensi pendapatan terjadi akibat menurunnya transaksi perdagangan jasa perawatan dan perbaikan kendaraan sepanjang Januari-Oktober 2021, juga perdagangan spare part atau suku cadang.
(Baca juga:Cara Mitsubishi Hapus Mitos Mahalnya Biaya Servis di Bengkel Resmi)
Di masa pandemi, kata Hermas, mayoritas bengkel mobil, motor, body repair dan bagian-bagiannya tutup. “Terpaksa mem-PHK sebagian pekerja, meliburkan sementara, atau memotong gaji agar bisa bertahan. Khusus mekanik sebagian ada yang menganggur atau bekerja serabutan,” kata Hermas di sela acara Deklarasi PBOIN di Jakarta, Minggu (31/10/2021).
Menurut Herman, rata-rata penurunan pendapatan bengkel otomotif tahun 2021 selama pandemi berkisar 40%. Khusus bagi bengkel UMKM, biaya sewa bengkel masih tetap, tidak ada pengurangan, bahkan pemilik lokasi ada yang malah menaikkan biaya sewa. Padahal, 95% bengkel otomotif UMKM di perkotaan lokasinya kontrak.
(Baca juga:Industri Bengkel Amerika dan Jepang Terpukul Kelangkaan Suku Cadang)
Lihat Juga :