Ekonomi RI Mulai Bangkit, OJK Ungkap Tanda-tandanya
Jum'at, 26 November 2021 - 18:06 WIB
loading...
A
A
A
Berikutnya, tercermin dari penyaluran kredit juga tumbuh positif sejak pertengahan 2021. Per Oktober kredit tumbuh sebesar 3,24 persen year on year dengan risiko kredit yang masih berada dalam rentan aman. "Kita mencatat juga bahwa permodalan tergolong kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,34 persen, kemudian juga dengan pertumbuhan DPK sebesar 9,4 persen. Tentunya ini turut mendukung industri perbankan,"ujar Heru.
Demikian juga profitabilitas pun turut tergolong membaik terlihat dari rasio Net Interest Margin (NIM) dan Return on Asset (ROA). Masing-masing 4,52 persen dan 1,92 persen.
Meski begitu, Heru mewanti-wanti adanya gap antara pertumbuhan kredit dan tentunya dana pihak ketiga yang dapat berpotensi menurunkan akuntabilitas industri perbankan. Demikian juga risiko kredit yang masih juga menjadi perhatian kita bersama.
Lebih detail Heru menjelaskan, meskipun pertumbuhan dunia dan nasional menunjukkan tanda tanda perbaikan namun masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain dampak dan resiko dari dampak tapering The Fed, potensi kenaikan suku bunga, normalisasi kebijakan di tiap negara, tidak meratanya distribusi vaksin antar negara, dan melonjaknya kembali kasus Covid-19 di beberapa negara. "Untuk industri perbankan kita harus masih menghadapi berbagai tantangan jangka pendek maupun tantangan struktural," ucapnya.
Adapun tantangan jangka pendek antara lain, ketidakpastian penyelesaian pandemi Covid-19, ekspektasi tappering off The Fed seiring pemulihan ekonomi US, kondisi pasar keuangan yang mengalami volatilitas yang tinggi, serta potensi risiko berakhirnya kebijakan stimulus fiskal untuk pemulihan perekonomian. Ini semua menjadi perhatian kita bersama.
Demikian juga profitabilitas pun turut tergolong membaik terlihat dari rasio Net Interest Margin (NIM) dan Return on Asset (ROA). Masing-masing 4,52 persen dan 1,92 persen.
Meski begitu, Heru mewanti-wanti adanya gap antara pertumbuhan kredit dan tentunya dana pihak ketiga yang dapat berpotensi menurunkan akuntabilitas industri perbankan. Demikian juga risiko kredit yang masih juga menjadi perhatian kita bersama.
Lebih detail Heru menjelaskan, meskipun pertumbuhan dunia dan nasional menunjukkan tanda tanda perbaikan namun masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain dampak dan resiko dari dampak tapering The Fed, potensi kenaikan suku bunga, normalisasi kebijakan di tiap negara, tidak meratanya distribusi vaksin antar negara, dan melonjaknya kembali kasus Covid-19 di beberapa negara. "Untuk industri perbankan kita harus masih menghadapi berbagai tantangan jangka pendek maupun tantangan struktural," ucapnya.
Adapun tantangan jangka pendek antara lain, ketidakpastian penyelesaian pandemi Covid-19, ekspektasi tappering off The Fed seiring pemulihan ekonomi US, kondisi pasar keuangan yang mengalami volatilitas yang tinggi, serta potensi risiko berakhirnya kebijakan stimulus fiskal untuk pemulihan perekonomian. Ini semua menjadi perhatian kita bersama.
Lihat Juga :