Gaduh Soal Label BPA Galon Isi Ulang, Pengusaha Depot Air Minum Angkat Bicara
Senin, 06 Desember 2021 - 22:07 WIB
loading...
Industri galon isi ulang turut bersuara terkait rancangan kebijakan pelabelan risiko Bisfenol-A (BPA) digulirkan BPOM. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Industri galon isi ulang turut bersuara terkait rancangan kebijakan pelabelan risiko Bisfenol-A (BPA) digulirkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ketua Umum Asosiasi Pemasok dan Distributor Depot Air Minum Indonesia Budi Dharmawan mengatakan bahwa pihaknya mendukung rancangan kebijakan BPOM sepanjang itu bertujuan untuk kepentingan kesehatan masyarakat.
"Sepanjang rancangan kebijakan BPOM memang berlatar keinginan untuk kepentingan kesehatan masyarakat secara luas, kami mendukungnya," kata dia, dikutip melalui pernyataan resmi, Senin (7/12/2021).
Baca Juga: Kemenperin Minta Pelabelan Mengandung BPA Tidak Dikenakan Terhadap Kemasan AMDK
Menurut dia penolakan atas rancangan kebijakan pelabelan lebih karena persaingan memperebutkan pasar air minum kemasan bermerek di kalangan masyarakat menengah ke atas yang angkanya mencapai 35 miliar liter per tahun. Pihaknya merujuk pada persaingan antara perusahaan galon isi ulang bermerek yang produknya menggunakan plastik polikarbonat yang mengandung BPA dan telah 40 tahun lebih menguasai pasar versus sejumlah pemain baru yang produknya menggunakan plastik lebih berkelas dan bebas BPA. "Ini sebenarnya hanya pertarungan di level dewa," katanya.
Sementara, fokus bisnis industri depot air minum adalah penyediaan air bersih untuk kalangan menengah ke bawah sehingga akan tetap melayani masyarakat. "Bagi kami, andai konsumen datang untuk isi ulang ke depot dengan membawa ember tetap akan kami layani," tandas dia.
"Sepanjang rancangan kebijakan BPOM memang berlatar keinginan untuk kepentingan kesehatan masyarakat secara luas, kami mendukungnya," kata dia, dikutip melalui pernyataan resmi, Senin (7/12/2021).
Baca Juga: Kemenperin Minta Pelabelan Mengandung BPA Tidak Dikenakan Terhadap Kemasan AMDK
Menurut dia penolakan atas rancangan kebijakan pelabelan lebih karena persaingan memperebutkan pasar air minum kemasan bermerek di kalangan masyarakat menengah ke atas yang angkanya mencapai 35 miliar liter per tahun. Pihaknya merujuk pada persaingan antara perusahaan galon isi ulang bermerek yang produknya menggunakan plastik polikarbonat yang mengandung BPA dan telah 40 tahun lebih menguasai pasar versus sejumlah pemain baru yang produknya menggunakan plastik lebih berkelas dan bebas BPA. "Ini sebenarnya hanya pertarungan di level dewa," katanya.
Sementara, fokus bisnis industri depot air minum adalah penyediaan air bersih untuk kalangan menengah ke bawah sehingga akan tetap melayani masyarakat. "Bagi kami, andai konsumen datang untuk isi ulang ke depot dengan membawa ember tetap akan kami layani," tandas dia.
Lihat Juga :