Banyak Sinyal Positif, Ekonomi RI Siap Lepas Landas ke Kenormalan Baru
Jum'at, 10 Desember 2021 - 22:16 WIB
loading...
A
A
A
“Kalau melihat ketahanan bank saya rasa BPR-BPRS masih sangat baik. Per September 2021, angka CAR BPR 32,01% dan LDR di angka 74%. Ini juga masaih ada ruang yang mencukupi untuk melakukan intermediasi,” urainya.
Baca juga: Jokowi Sedih, Tak Bisa Paksa Bank Naikkan Plafon Kredit UMKM
Sepanjang tahun 2021 kinerja BPR-BPRS masih terjaga dan tumbuh positif. Per September 2021, total asset BPR tumbuh 8,90% (yoy), penyaluran kredit tumbuh 4,33% (yoy) menjadi Rp123 triliun, dan DPK tumbuh sebesar 11,27% (yoy) menjadi 126 triliun.
Hanya saja kata Joko, ada risiko kredit di mana angka NPL rata-rata BPR berada di atas 5% dan itu menjadi PR bersama serta menjadi prioritas dalam rencana bisnis bank (RBB) di 2022.
Menyangkut persaingan bisnis ke depan, Joko mengingatkan kepada seluruh BPR-BPRS di Indonesia untuk bisa bersaing. “Bagaimana tata kelola yang optimal, kualitas dan kuantitas SDM yang memadai, serta ketersediaan infrastruktur teknologi menjadi penting bagi industri BPR-BPRS,” tandasnya.
Hal yang tak kalah penting, tandas Joko, industri BPR-BPRS juga harus bertransformasi pada keinginan market. “Kami berpandangan bahwa ke depan BPR-BPR juga harus hybrid dalam berbisnis. Para milenial juga dipertimbangakan sebagai going concern bisnis BPR-BPRS,” imbuhnya.
Baca juga: Jokowi Sedih, Tak Bisa Paksa Bank Naikkan Plafon Kredit UMKM
Sepanjang tahun 2021 kinerja BPR-BPRS masih terjaga dan tumbuh positif. Per September 2021, total asset BPR tumbuh 8,90% (yoy), penyaluran kredit tumbuh 4,33% (yoy) menjadi Rp123 triliun, dan DPK tumbuh sebesar 11,27% (yoy) menjadi 126 triliun.
Hanya saja kata Joko, ada risiko kredit di mana angka NPL rata-rata BPR berada di atas 5% dan itu menjadi PR bersama serta menjadi prioritas dalam rencana bisnis bank (RBB) di 2022.
Menyangkut persaingan bisnis ke depan, Joko mengingatkan kepada seluruh BPR-BPRS di Indonesia untuk bisa bersaing. “Bagaimana tata kelola yang optimal, kualitas dan kuantitas SDM yang memadai, serta ketersediaan infrastruktur teknologi menjadi penting bagi industri BPR-BPRS,” tandasnya.
Hal yang tak kalah penting, tandas Joko, industri BPR-BPRS juga harus bertransformasi pada keinginan market. “Kami berpandangan bahwa ke depan BPR-BPR juga harus hybrid dalam berbisnis. Para milenial juga dipertimbangakan sebagai going concern bisnis BPR-BPRS,” imbuhnya.
(ind)
Lihat Juga :