Pengakuan Erick Thohir: Jadi Menteri Baru 2 Tahun, Tekanannya Luar Biasa
Sabtu, 11 Desember 2021 - 18:30 WIB
loading...
Erick Thohir mengungkapkan tekanan yang dihadapi saat pandemi. Foto/ArifJulianto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir mengaku mengalami tekanan luar biasa saat Covid-19 terjadi di Indonesia. Pasalnya, pandemi terjadi saat program transformasi BUMN tengah dijalankan.
Baca juga: Bos Posco Tertarik Kerja Sama dengan Indonesia Battery Corporation
Tak hanya itu, di tengah krisis kesehatan global, Indonesia dituntut merealisasikan energi baru dan terbarukan. Tuntutan itu sejalan dengan menghentikan pemakaian energi batubara dalam Pakta Iklim Glasgow (The Glasgow Pact) hasil KTT perubahan iklim (COP26) di Glasgow beberapa waktu lalu.
"Ini jadi menteri baru dua tahun, tapi tekananya luar biasa. Sedang transformasi, sedang bersih-bersih, sedang beres-beres, tiba-tiba Covid datang. Belum selesai Covid datang, kemarin diajak Bapak Presiden (Jokowi) ke G20. Seumur hidup belum pernah ke G20. Lalu ke COP26 yang ada di Glasgow mengenai perubahan energi ideal," ujar Erick dalam orasi ilmiahnya di ITS, Sabtu (11/12/2021).
Indonesia, kata Erick, mendapat tiga tekanan yang datang secara bersamaan. Pertama, pasar global yang akan terus dipaksakan dibuka. Kedua, disrupsi digital dan ketiga, ketahanan kesehatan.
Bahkan, ketiga faktor itu menjadi tantangan terbesar bagi peradaban manusia saat ini. Meski begitu, dia tidak menapikan ada manfaat positif dari tiga tuntutan tersebut.
"Kita melihat hari ini, ini memang kita sedang mendapat tekanan yang luar biasa. Tekanan yang memang datang bersamaan. Bahkan, saya mungkin 3-4 hari lalu berdiskusi sampai jam 1 pagi, mungkin jangan-jangan ini adalah tekanan yang mengubah dan the big challenge atau ujian terberat bagi human atau bagi manusia," katanya.
Baca juga: Bos Posco Tertarik Kerja Sama dengan Indonesia Battery Corporation
Tak hanya itu, di tengah krisis kesehatan global, Indonesia dituntut merealisasikan energi baru dan terbarukan. Tuntutan itu sejalan dengan menghentikan pemakaian energi batubara dalam Pakta Iklim Glasgow (The Glasgow Pact) hasil KTT perubahan iklim (COP26) di Glasgow beberapa waktu lalu.
"Ini jadi menteri baru dua tahun, tapi tekananya luar biasa. Sedang transformasi, sedang bersih-bersih, sedang beres-beres, tiba-tiba Covid datang. Belum selesai Covid datang, kemarin diajak Bapak Presiden (Jokowi) ke G20. Seumur hidup belum pernah ke G20. Lalu ke COP26 yang ada di Glasgow mengenai perubahan energi ideal," ujar Erick dalam orasi ilmiahnya di ITS, Sabtu (11/12/2021).
Indonesia, kata Erick, mendapat tiga tekanan yang datang secara bersamaan. Pertama, pasar global yang akan terus dipaksakan dibuka. Kedua, disrupsi digital dan ketiga, ketahanan kesehatan.
Bahkan, ketiga faktor itu menjadi tantangan terbesar bagi peradaban manusia saat ini. Meski begitu, dia tidak menapikan ada manfaat positif dari tiga tuntutan tersebut.
"Kita melihat hari ini, ini memang kita sedang mendapat tekanan yang luar biasa. Tekanan yang memang datang bersamaan. Bahkan, saya mungkin 3-4 hari lalu berdiskusi sampai jam 1 pagi, mungkin jangan-jangan ini adalah tekanan yang mengubah dan the big challenge atau ujian terberat bagi human atau bagi manusia," katanya.
Lihat Juga :