Soal Restrukturisasi Utang Garuda Indonesia Rp139 Triliun, Begini Progres Barunya
Senin, 20 Desember 2021 - 12:57 WIB
loading...
Restrukturisasi utang dengan kreditur, lessor, hingga vendor tengah dijalankan manajemen Garuda Indonesia. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk , mencatat ada tiga tantangan utama dalam proses restrukturisasi utang sebesar USD9,8 miliar atau setara Rp139 triliun. Saat ini restrukturisasi utang dengan kreditur, lessor, hingga vendor tengah dijalankan manajemen.
Direktur Keuangan Garuda Indonesia, Prasetyo menyebut setidaknya ada tiga tantangan utama yang dihadapi emiten dengan kode saham GIAA tersebut. Ketiganya adalah tantangan operasional, pengelolaan keuangan, dan mekanisme hukum (legal).
"Seperti diketahui restrukturisasi Garuda ini merupakan pilihan restrukturisasi total, restrukturisasi secara menyeluruh. Dimana, kita harus target kita menyehatkan dengan posisi liability yang sustainable. Ini tantangan yang kita hadapi di dalam pengelolaan keuangan," ujar Prasetyo dalam konferensi pers, Senin (20/12/2021).
Baca Juga: KPK Benarkan Terdakwa Korupsi Garuda Indonesia Meninggal Dunia
Adapun tantangan keuangan terkait dengan likuiditas perusahaan. Prasetyo menilai, skema restrukturisasi utang perlu mempertimbangkan likuiditas Garuda Indonesia. Sebab, pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas memiliki keterbatasan fiskal.
Direktur Keuangan Garuda Indonesia, Prasetyo menyebut setidaknya ada tiga tantangan utama yang dihadapi emiten dengan kode saham GIAA tersebut. Ketiganya adalah tantangan operasional, pengelolaan keuangan, dan mekanisme hukum (legal).
"Seperti diketahui restrukturisasi Garuda ini merupakan pilihan restrukturisasi total, restrukturisasi secara menyeluruh. Dimana, kita harus target kita menyehatkan dengan posisi liability yang sustainable. Ini tantangan yang kita hadapi di dalam pengelolaan keuangan," ujar Prasetyo dalam konferensi pers, Senin (20/12/2021).
Baca Juga: KPK Benarkan Terdakwa Korupsi Garuda Indonesia Meninggal Dunia
Adapun tantangan keuangan terkait dengan likuiditas perusahaan. Prasetyo menilai, skema restrukturisasi utang perlu mempertimbangkan likuiditas Garuda Indonesia. Sebab, pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas memiliki keterbatasan fiskal.
Lihat Juga :