Teknologi Dorong Panen Tambak Udang Lebihi Target Usaha
Jum'at, 07 Januari 2022 - 22:13 WIB
loading...
Teknologi aquatech dorong produksi tambak udang. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Teknologi aquatech di Indonesia memang tak seramai industri fintech yang sedang berkembang pesat saat ini. Penciptaan sebuah teknologi berbasis ilmiah pun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Melalui teknologi, komposisi dan formula yang pas, ideal untuk menjalankan usaha tambak udang.
Salah satu startup aquatech di Indonesia Delos mengembangkan tambak udang konvensional Dewi Laut Aquaculture (DLA) yang berlokasi di Garut, Jawa Barat. Delos merupakan penyempurnaan dari siklus ke siklus tambak itu sendiri. Dimulai sejak 2016 hingga kini, DLA terus berinovasi secara digital, hingga bermuara pada aplikasi teknologi Delos yang kemudian mencuat ke publik.
Dilengkapi dengan teknologi kontrol bernama Aquahero, Delos dirancang sebagai konsultan ahli para petambak udang. CEO Delos Guntur Mallarangeng mengatakan dengan keterlibatan Delos, mampu membuat hasil panen DLA naik secara signifikan.
"Kami berhasil memaksimalkan budi daya, dengan tebaran 180 ekor per meter persegi, rasio konversi pakan di bawah 1,5 dan survival rate di atas 85 persen, yang akhirnya kami dapat melebihi target sebanyak 40 ton per hektare (ha) dengan lama budi daya 90 hari," kata dia melalui pernyataan resmi, Jumat (7/1/2021).
Selain dari tolok ukur itu, Delos mampu mengukur seberapa besar pemberian pakan yang ideal, sehingga tidak berlebihan dan membuang banyak biaya bagi petambak. Harapannya, pada hasil akhirnya mampu mendapatkan nilai Rasio Konversi Pakan (FCR) yang baik di bawah 1,5. Jika demikian, udang akan tumbuh sesuai dengan bobot yang ditargetkan di awal oleh petambak.
"Jika tambak-tambak udang di Indonesia bisa menerapkan sains, teknologi, dan operasional yang terbaru dan terbarukan, maka produktivitas per hektare para pelaku budi daya di Indonesia akan menjadi lebih kompetitif di ajang global. Peluang ini sangat baik bagi industri perikanan di Indonesia apalagi negara kita adalah negara maritim dengan sumber daya lautnya yang melimpah, bahkan seharusnya bisa melampaui kemampuan maritim negara manapun," jelas Guntur.
Salah satu startup aquatech di Indonesia Delos mengembangkan tambak udang konvensional Dewi Laut Aquaculture (DLA) yang berlokasi di Garut, Jawa Barat. Delos merupakan penyempurnaan dari siklus ke siklus tambak itu sendiri. Dimulai sejak 2016 hingga kini, DLA terus berinovasi secara digital, hingga bermuara pada aplikasi teknologi Delos yang kemudian mencuat ke publik.
Dilengkapi dengan teknologi kontrol bernama Aquahero, Delos dirancang sebagai konsultan ahli para petambak udang. CEO Delos Guntur Mallarangeng mengatakan dengan keterlibatan Delos, mampu membuat hasil panen DLA naik secara signifikan.
"Kami berhasil memaksimalkan budi daya, dengan tebaran 180 ekor per meter persegi, rasio konversi pakan di bawah 1,5 dan survival rate di atas 85 persen, yang akhirnya kami dapat melebihi target sebanyak 40 ton per hektare (ha) dengan lama budi daya 90 hari," kata dia melalui pernyataan resmi, Jumat (7/1/2021).
Selain dari tolok ukur itu, Delos mampu mengukur seberapa besar pemberian pakan yang ideal, sehingga tidak berlebihan dan membuang banyak biaya bagi petambak. Harapannya, pada hasil akhirnya mampu mendapatkan nilai Rasio Konversi Pakan (FCR) yang baik di bawah 1,5. Jika demikian, udang akan tumbuh sesuai dengan bobot yang ditargetkan di awal oleh petambak.
"Jika tambak-tambak udang di Indonesia bisa menerapkan sains, teknologi, dan operasional yang terbaru dan terbarukan, maka produktivitas per hektare para pelaku budi daya di Indonesia akan menjadi lebih kompetitif di ajang global. Peluang ini sangat baik bagi industri perikanan di Indonesia apalagi negara kita adalah negara maritim dengan sumber daya lautnya yang melimpah, bahkan seharusnya bisa melampaui kemampuan maritim negara manapun," jelas Guntur.
Lihat Juga :