YLKI: Tak Ada Pilihan, Harga Pertamax Memang Harus Disesuaikan
Jum'at, 11 Februari 2022 - 22:38 WIB
loading...
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai, rencana penyesuaian harga BBM Pertamax memang tak bisa dihindari. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai, rencana penyesuaian harga BBM Pertamax memang tak bisa dihindari. Selain harga minyak dunia yang terus melambung, juga karena SPBU swasta pun sudah beberapa kali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Memang tak ada pilihan. Kalau tidak disesuaikan, dikhawatirkan justru berdampak terhadap pelayanan kepada konsumen,” kata Tulus di Jakarta, Jumat (11/2/2022).
Baca Juga: Ahok Sebut Pertamina Masih Bisa Cuan Rp14,2 Triliun Meski Harga Pertamax Batal Naik
Menurut Tulus, kondisi real saat ini, memang membuat Pertamina tak punya opsi lain, kecuali menaikkan harga BBM Pertamax. Kondisi dimaksud, adalah harga minyak dunia yang terus melambung.
Seperti diketahui, untuk Jenis Brent misalnya, sekarang sudah menyentuh level USD91,46 per barel. Harga tersebut adalah rekor dan tertinggi sejak 2014. Bahkan, SPBU swasta seperti Shell, sudah beberapa kali menaikkan harga BBM mereka. Untuk jenis RON 92, contohnya, saat ini harga produk Shell sudah Rp4.000 di atas Pertamax.
“Pertamina tidak mungkin menjual rugi produknya. Dan saat ini, kerugian Pertamina dari Pertamax, yang saya dengar cukup tinggi. Dari sana, ya memang tak ada pilihan. Apalagi, menaikkan harga Pertamax merupakan aksi korporasi,” papar Tulus.
Di sisi lain, Tulus tidak menepis jika saat ini tingkat konsumsi Pertamax sudah semakin tinggi, yakni 20%dari total konsumsi gazoline. “Karena itulah, jika Pertamina terus bertahan dengan harga saat ini, tentu kerugian yang dialami semakin membengkak,” imbuh Tulus.
“Memang tak ada pilihan. Kalau tidak disesuaikan, dikhawatirkan justru berdampak terhadap pelayanan kepada konsumen,” kata Tulus di Jakarta, Jumat (11/2/2022).
Baca Juga: Ahok Sebut Pertamina Masih Bisa Cuan Rp14,2 Triliun Meski Harga Pertamax Batal Naik
Menurut Tulus, kondisi real saat ini, memang membuat Pertamina tak punya opsi lain, kecuali menaikkan harga BBM Pertamax. Kondisi dimaksud, adalah harga minyak dunia yang terus melambung.
Seperti diketahui, untuk Jenis Brent misalnya, sekarang sudah menyentuh level USD91,46 per barel. Harga tersebut adalah rekor dan tertinggi sejak 2014. Bahkan, SPBU swasta seperti Shell, sudah beberapa kali menaikkan harga BBM mereka. Untuk jenis RON 92, contohnya, saat ini harga produk Shell sudah Rp4.000 di atas Pertamax.
“Pertamina tidak mungkin menjual rugi produknya. Dan saat ini, kerugian Pertamina dari Pertamax, yang saya dengar cukup tinggi. Dari sana, ya memang tak ada pilihan. Apalagi, menaikkan harga Pertamax merupakan aksi korporasi,” papar Tulus.
Di sisi lain, Tulus tidak menepis jika saat ini tingkat konsumsi Pertamax sudah semakin tinggi, yakni 20%dari total konsumsi gazoline. “Karena itulah, jika Pertamina terus bertahan dengan harga saat ini, tentu kerugian yang dialami semakin membengkak,” imbuh Tulus.
Lihat Juga :