Produksi Kedelai Lokal Harus Ditingkatkan

Selasa, 22 Februari 2022 - 11:28 WIB
loading...
A A A
Tingginya harga pokok bahan baku pembuatan tahu tempe membuat pengrajin merugi karena tidak menutupi harga produksi. Mereka berharap agar pemerintah mengambil sikap dan menstabilkan harga kedelai. “Kenaikan sudah dua tahun tapi sekarang yang benar-benar tinggi. Harapan kami pemerintah bisa menstabilk harga kedelai. Kenaikan mulai dari harga Rp8.000 per kilo hingga kini tembus Rp11.000. Ini kenaikannya cukup cepat dari Rp9.000 ke Rp11.000,” keluhnya.

Rasjani mengaku tidak tahu mengapa harga kedelai sampai tinggi seperti ini. Sebagai pelaku usaha kecil, pihaknya hanya ingin agar harga kedelai normal dan tidak tinggi seperti saat ini.

“Makanya kami melakukan aksi ini supaya masyarakat tahu kalau harga kedelai mahal. Dan kalaupun kami produksi lagi nanti kemungkinan akan naik dan supaya masyarakat mengetahui hal itu,” tukasnya.

Selama ini solusi yang dilakukan adalah dengan memperkecil ukuran tahu dan tempe yang diproduksi. Namun terus melonjaknya harga kedelai membuat mereka teriak karena sudah tidak bisa lagi terus memperkecil ukuran tahu dan tempe yangt diproduksi namun juga tidak bisa menaikkan harga jual. “Kalau kemarin-kemarin ya diperkecil ukurannya. Tapi lama-lama juga harga kedelai makin tidak menutupi biaya produksi,” keluhnya.

Setelah tiga hari mogok nanti mereka akan kembali memproduksi. Namun dipastikan harga jual juga akan dinaikkan. “Kemarin tempe dijual Rp 4.000 per potong kalau nanti bisa naik jadi Rp 5.000. kalau untuk tahu ada kenaikan Rp 20.000 per papan,” ungkapnya.

Di sisi lain, aksi mogok pengrajin tahu tempe menyebabkan tidak ada penjual tahu tempe di pasar. Salah satunya di Pasar Cisalak, Depok. Bahkan di penjual sayur juga tidak ditemukan penjual yang menjual tahu tempe. Padahal dua makanan itu termasuk makanan yang diburu masyarakat.

“Nggak jualan (tempe). Dari pembuatnya ngga dikirim. Katanya lagi mogok produksi,” kata Sahat, salah seorang penjual sayur di Pasar Tugu, Depok, Senin (21/2/2022).

Mengenai kosongnya tahu tempe ini, Sahat mengaku sudah mengetahui sejak sehari sebelumnya. Karena itu, dia pun memutuskan tidak menjual tempe. Di sisi lain, dia juga menginformasikan kepada para pembeli tentang persoalan yang terjadi.
“Yang datang hari ini banyak menanyakan tempe, tetapi ada juga yang setelah kami berikan informasi mereka langsunh beli yang biasanya dua papan jadi empat papan untuk persediaan,” tuturnya.

Santi, salah seorang pembeli mengaku sangat kehilangan dengan tidak adanya tempe dan tahu di pasaran. Dua makanan tersebut menjadi menu yang hampir tiap hari ada di rumahnya.

“Jadi bingung ya karena kan biasanya selalu ada tahu atau tempe kalau masak. Murah meriah dan anak-anak juga suka kebetulan tahu,” katanya.

Dia berharap agar kondisi ini dapat segera teratasi sehingga ibu rumah tangga seperti dirinya tidak kebingungan. Menurutnya tahu dan tempe menjadi andalan dirinya untuk menyajikan makanan untuk keluarga terutama saat tengah bulan. “Kalau kayak sekarang nih belum gajian kan biasanya lauknya tahu atau tempe. Nah sekarang ngga ada jadi bingung. Mau beli ayam atau ikan kan harganya lebih mahal dibanding tahu tempe,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi menyatakan, langka dan tingginya harga kedelai di pasaran harus menjadi perhatian serius dan segera diatasi pemerintah. Menurut Dedi, dalam jangka panjang maka pemerintah harus terus mendorong agar jumlah produksi kedelai di dalam negeri ditingkatkan. Sedangkan untuk jangka pendek, kata dia, pemerintah harus menyiapkan ketersediaan kedelai sesuai dengan kebutuhan pasar dengan melakukan intervensi.

"Karena ini (kedelai) adalah sebuah kebutuhan mendasar dari pangan rakyat," tegas Dedi melalui keterangan tertulis, di Jakarta, Senin (21/2).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Melemah, Perajin...
Rupiah Melemah, Perajin Tahu Tempe Gelisah Imbas Lonjakan Harga Kedelai Impor
Kesepakatan Tarif AS...
Kesepakatan Tarif AS dan Indonesia Disambut Baik Asosiasi Kedelai
Harga Kedelai Global...
Harga Kedelai Global Melonjak 3 Kali Lipat, Mentan: Kalau Tidak Tanam Mau Makan Apa?
Luhut Ungkap Rencana...
Luhut Ungkap Rencana Impor 50.000 Ekor Sapi dan 300.000 Ton Kedelai dari Afsel
Inovasi UMKM Soya Ayu,...
Inovasi UMKM Soya Ayu, Sajikan 34 Varian Susu dan Makanan dari Kedelai
Keripik Tempe Kramat...
Keripik Tempe Kramat Pela, Punya 4 Varian Rasa dan Banjir Pesanan Jelang Lebaran
Menkes Ungkap Bahaya...
Menkes Ungkap Bahaya Tersembunyi Kecap Manis, Kandungan Natriumnya Ternyata Tinggi
Tahu-Tempe dan Impor...
Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan
Harga Kedelai Naik Imbas...
Harga Kedelai Naik Imbas Konflik Timur Tengah
Rekomendasi
Bangun Harapan dari...
Bangun Harapan dari Wilayah 3T, PNM Peduli Tingkatkan Fasilitas SD Inpres Wae Moto
AS Ancam Malaysia setelah...
AS Ancam Malaysia setelah Anwar Ibrahim Ingin Usir Seluruh Warga Israel
Samsung Bentuk Divisi...
Samsung Bentuk Divisi Robotika Khusus Mempercepat Strategi AI
Berita Terkini
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
Jelang Mandatori SAF...
Jelang Mandatori SAF 1% di 2027, Pertamina Patra Niaga Percepat Ekosistem
Tren Penguatan IHSG...
Tren Penguatan IHSG Lanjut ke 6.346, Transaksi di Awal Sesi Cetak Rp627 Miliar
AS Gempur Iran 12 Malam...
AS Gempur Iran 12 Malam Beruntun & Houthi Tembak Tanker Saudi, Harga Minyak Dunia Tembus USD96/Barel
Purbaya Bebaskan Bea...
Purbaya Bebaskan Bea Masuk Impor LPG dan Komponen Pesawat Udara
Indonesia Punya 40%...
Indonesia Punya 40% Cadangan Nikel Dunia, Anehnya Tak Bisa Pimpin Rantai Pasok Baterai Global
Infografis
Ini Alasan Mengapa Tanaman...
Ini Alasan Mengapa Tanaman Ganja Harus Ditanam di Ketinggian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved