Perang Ukraina: Pembalasan Rusia Bakal Hadirkan Bencana Global Jika Embargo Minyak Berlaku

Selasa, 08 Maret 2022 - 10:09 WIB
loading...
Perang Ukraina: Pembalasan...
Rusia mengatakan akan menutup pipa gas utamanya ke Jerman jika Barat melanjutkan larangan minyak Rusia. Selain itu Moskow memperingatkan AS dan sekutu bahwa harga minyak bisa tembus lebih dari USD300 per barel. Foto/Dok
A A A
MOSKOW - Rusia mengatakan akan menutup pipa gas utamanya ke Jerman jika Barat melanjutkan larangan minyak Rusia. Seperi diketahui harga minyak dunia terus melonjak ke level tertinggi sejak 2008, Senin (7/3/2022) setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken mengumumkan rencana negara barat untuk melarang impor minyak dari Rusia.

Rusia pun memperingatkan AS dan sekutu bahwa harga minyak dunia bisa tembus lebih dari USD300 per barel menindaklanjuti kemungkinan penutupan pipa gas utama Rusia-Jerman. Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak mengatakan "penolakan terhadap minyak Rusia akan menyebabkan konsekuensi bencana bagi pasar global".

Baca Juga: Konflik Rusia dan Ukraina Memanas, Bagaimana Nasib Pipa Gas 1.234 Km di Laut Baltik

Dimana terangnya embargo minyak Rusia bisa menyebabkan harganya naik lebih dari dua kali lipat menjadi USD300 per barel. AS sendiri dikabarkan telah menjajaki larangan potensial impor minyak dari Rusia dengan sekutunya sebagai cara untuk menghukum Rusia atas invasinya ke Ukraina.

Namun Jerman dan Belanda menolak rencana tersebut pada awal pekan kemarin. Sebagai informasi Uni Eropa (UE) mendapat sekitar 40% pasokan gasnya dan 30% minyaknya dari Rusia, dan tidak memiliki pengganti yang mudah jika pasokan terganggu.

Dalam sebuah pidato di televisi pemerintah Rusia, Novak mengatakan "tidak mungkin untuk segera menemukan pengganti minyak Rusia di pasar Eropa".

"Hal itu membutuhkan waktu bertahun-tahun, dan masih akan jauh lebih mahal bagi konsumen Eropa. Pada akhirnya, mereka akan terluka paling parah dengan hasil ini (emargo minyak)," katanya.

Menunjuk pada keputusan Jerman bulan lalu untuk membekukan sertifikasi Nord Stream 2, jalur pipa gas baru yang menghubungkan kedua negara, ia menambahkan bahwa embargo minyak dapat mendorong aksi pembalasan.

"Kami memiliki hak untuk mengambil keputusan yang tepat dan memberlakukan embargo pada pemompaan gas melalui pipa gas Nord Stream 1 yang ada," kata wakil PM Rusia.

Rusia sendiri merupakan produsen gas alam terbesar di dunia dan produsen minyak mentah kedua, dan setiap langkah memberi sanksi kepada industri energinya akan sangat merusak ekonominya sendiri.

Baca Juga: AS Bersiap Embargo Rusia, Harga Minyak Mentah Meroket ke Level Tertinggi 13 Tahun

Ukraina telah meminta Barat untuk mengadopsi larangan semacam itu, tetapi ada kekhawatiran akan berdampak pada melonjaknya harga. Kekhawatiran investor akan embargo mendorong minyak mentah Brent ke level USD139 per barel pada satu titik pada hari Senin kemarin atau level tertinggi selama hampir 14 tahun.

Harga rata-rata bahan bakar di Inggris juga mencapai rekor baru yakni 155 pounds per liter.

Mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, kantor berita Reuters melaporkan bahwa AS mungkin bakal terus bergerak maju dengan melakukan embargo tanpa sekutu-sekutunya, lantaran mereka hanya mendapat sekitar 3% pasokan minyaknya dari Rusia.

Namun, pada hari Senin, Kanselir Jerman Olaf Scholz menolak gagasan larangan yang lebih luas, dengan mengatakan Eropa telah "dengan sengaja membebaskan" energi Rusia dari sanksi karena mengamankan pasokan tidak dapat dilakukan "dengan cara lain" saat ini.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Harga BBM Naik 37%,...
Harga BBM Naik 37%, Saatnya Percepat Adopsi Kendaraan Listrik
Harga Minyak Dunia Anjlok,...
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
AS-Iran Berdamai, Harga...
AS-Iran Berdamai, Harga Minyak Terjun Bebas ke Bawah USD80 per Barel
Selat Hormuz Dibuka,...
Selat Hormuz Dibuka, tapi Pemulihan Pasokan Minyak Global Butuh Berbulan-bulan
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Rekomendasi
Protes Serangan Mematikan...
Protes Serangan Mematikan Israel di Lebanon, Iran Tutup Selat Hormuz
Kaesang Kaget Foto Jokowi...
Kaesang Kaget Foto Jokowi Lebih Banyak di Rakorwil PSI Kaltim
Indro Warkop Gaungkan...
Indro Warkop Gaungkan Pesan Hidup Sehat Lewat Kebiasaan Harian
Berita Terkini
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Infografis
Tentara China Ikut Perang...
Tentara China Ikut Perang Bantu Rusia Melawan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved