Program Dedieselisasi PLN Kunci RI Capai Net Zero Emission Tahun 2060
Kamis, 24 Maret 2022 - 08:01 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan untuk baterai hari ini harganya mencapai USD 13 sen per kWh yang dulunya sempat di angka USD 50 sen per kWh. Artinya, ada penurunan biaya hampir 80 persen.
"Perkembangan teknologi dan inovasi mampu menekan mengurangi harga dari pembangkit EBT. Ini menjawab dilema antara energi bersih tapi mahal atau energi kotor tapi murah. Ini bisa dijawab, bahwa dalam kurun waktu energi bersih dan murah bisa dicapai," tegas Darmawan.
Baca Juga: Tekan Emisi Karbon, PLN Sulap Limbah Bonggol Jagung Jadi Bahan Bakar PLTU
Tak hanya konversi PLTD ke PLTS dan baterai, PLN juga telah bekerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk melakukan konversi 33 PLTD menjadi berbasis gas, khususnya di wilayah terpencil.
"Beberapa PLTD yang tahun ini juga digarap bersama PGN mengganti PLTD menjadi pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU). Program gasifikasi ini menyasar daerah terpencil," ujar Darmawan.
Dalam Rencana Kerja dan Anggaran perusahaan (RKAP) PLN 2022, bauran energi dari pembangkit gas di akhir tahun direncanakan menjadi sebesar 18,76 persen dari 18,1 persen pada Februari 2022.
Penambahan ini masuk dari program dedieselisasi PLTD yang saat ini masih mendominasi di wilayah Nusa Tenggara dengan porsi 65 persen, serta Maluku dan Papua dengan porsi 85,9 persen.
Khusus di Sulsel, bauran EBT di Sistem Kelistrikan sudah mencapai 38,12 persen. Pembangkit EBT di sistem Sulawesi Bagian Selatan, diantaranya:
1.PLTB Tolo 60 MW
2.PLTB Sidrap 70 MW
3.PLTA Bakaru 2x63 MW
4.Site Poso
•PLTA Poso 4x30 MW (beroperasi 2012)
•PLTA Poso 3x65 MW (beroperasi 2019)
•PLTA Poso 4x50 MW (beroperasi 2021)
•TOTAL : 515 MW
5.PLTA Malea 2x45 MW
6.PLTA Bili-bili 19,5 MW
"Perkembangan teknologi dan inovasi mampu menekan mengurangi harga dari pembangkit EBT. Ini menjawab dilema antara energi bersih tapi mahal atau energi kotor tapi murah. Ini bisa dijawab, bahwa dalam kurun waktu energi bersih dan murah bisa dicapai," tegas Darmawan.
Baca Juga: Tekan Emisi Karbon, PLN Sulap Limbah Bonggol Jagung Jadi Bahan Bakar PLTU
Tak hanya konversi PLTD ke PLTS dan baterai, PLN juga telah bekerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk melakukan konversi 33 PLTD menjadi berbasis gas, khususnya di wilayah terpencil.
"Beberapa PLTD yang tahun ini juga digarap bersama PGN mengganti PLTD menjadi pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU). Program gasifikasi ini menyasar daerah terpencil," ujar Darmawan.
Dalam Rencana Kerja dan Anggaran perusahaan (RKAP) PLN 2022, bauran energi dari pembangkit gas di akhir tahun direncanakan menjadi sebesar 18,76 persen dari 18,1 persen pada Februari 2022.
Penambahan ini masuk dari program dedieselisasi PLTD yang saat ini masih mendominasi di wilayah Nusa Tenggara dengan porsi 65 persen, serta Maluku dan Papua dengan porsi 85,9 persen.
Khusus di Sulsel, bauran EBT di Sistem Kelistrikan sudah mencapai 38,12 persen. Pembangkit EBT di sistem Sulawesi Bagian Selatan, diantaranya:
1.PLTB Tolo 60 MW
2.PLTB Sidrap 70 MW
3.PLTA Bakaru 2x63 MW
4.Site Poso
•PLTA Poso 4x30 MW (beroperasi 2012)
•PLTA Poso 3x65 MW (beroperasi 2019)
•PLTA Poso 4x50 MW (beroperasi 2021)
•TOTAL : 515 MW
5.PLTA Malea 2x45 MW
6.PLTA Bili-bili 19,5 MW
(agn)
Lihat Juga :