Jurus Rubel untuk Gas Rusia Bikin Sekutu AS di Eropa dan Asia Kelabakan
Jum'at, 25 Maret 2022 - 09:04 WIB
loading...
A
A
A
BDEW menyatakan, regulator energi nasional Bundesnetzagentur perlu menetapkan kriteria industri dan sektor mana yang akan terus menerima pasokan, sementara pelanggan rumah tangga harus dilindungi oleh peraturan yang ada.
Namun, Menteri ekonomi Jerman Robert Habeck berkilah tidak perlu ada mekanisme peringatan dini dan pasokan gas akan dijamin. Akan tetapi dia menambahkan bahwa situasi ini perlu dipantau secara ketat.
Permintaan Rusia, yang masih perlu didukung oleh mekanisme konkret, menghadirkan dilema bagi pelanggan Eropa: menolak membayar dalam rubel dan berisiko tidak mendapatkan gas, atau mematuhi dan mengambil risiko dikenai harga yang lebih tinggi karena kontrak akan dinegosiasi ulang di mana kesepakatan jangka panjang yang lebih menguntungkan mereka kemungkinan akan disisihkan oleh Rusia.
"Rusia (belum) mematikan keran gas. Tapi itu bisa secara signifikan meningkatkan harga yang haris kami bayar untuk itu," kata analis di Commerzbank.
Terpisah, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Washington sedang berkonsultasi dengan sekutunya terkait kebijakan tubel untuk gas yang diambil Rusia. Belum jelas apakah AS akan mengizinkan negara-negara Eropa yang tidak dapat hidup tanpa gas Rusia, dibolehkan untuk memproses pembayaran gasnya dalam rubel tanpa melanggar sanksi.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen setuju, dan mengatakan langkah itu merupakan upaya untuk menghindari sanksi Uni Eropa terhadap Rusia. "Kami tidak akan membiarkan sanksi kami dielakkan. Waktu di mana energi dapat digunakan untuk memeras kami sudah berakhir," katanya.
Gelombang kebingungan juga melanda Jepang sebagai importir gasa alam Rusia terbesar di Asia. Tokyo Gas dan Osaka Gas, dua pemasok gas lokal terbesar di negara itu, menyatakan mereka sedang mempelajari rincian tentang persyaratan rubel, senada dengan pernyataan dari VNG Jerman dan pembeli Eropa lainnya.
Korea Selatan, importir LNG Rusia terbesar ketiga di Asia, berharap dapat melanjutkan impor. Komisi Jasa Keuangan Korea bahkan telah menyatakan akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memfasilitasi perdagangan.
Namun, Menteri ekonomi Jerman Robert Habeck berkilah tidak perlu ada mekanisme peringatan dini dan pasokan gas akan dijamin. Akan tetapi dia menambahkan bahwa situasi ini perlu dipantau secara ketat.
Permintaan Rusia, yang masih perlu didukung oleh mekanisme konkret, menghadirkan dilema bagi pelanggan Eropa: menolak membayar dalam rubel dan berisiko tidak mendapatkan gas, atau mematuhi dan mengambil risiko dikenai harga yang lebih tinggi karena kontrak akan dinegosiasi ulang di mana kesepakatan jangka panjang yang lebih menguntungkan mereka kemungkinan akan disisihkan oleh Rusia.
"Rusia (belum) mematikan keran gas. Tapi itu bisa secara signifikan meningkatkan harga yang haris kami bayar untuk itu," kata analis di Commerzbank.
Terpisah, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Washington sedang berkonsultasi dengan sekutunya terkait kebijakan tubel untuk gas yang diambil Rusia. Belum jelas apakah AS akan mengizinkan negara-negara Eropa yang tidak dapat hidup tanpa gas Rusia, dibolehkan untuk memproses pembayaran gasnya dalam rubel tanpa melanggar sanksi.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen setuju, dan mengatakan langkah itu merupakan upaya untuk menghindari sanksi Uni Eropa terhadap Rusia. "Kami tidak akan membiarkan sanksi kami dielakkan. Waktu di mana energi dapat digunakan untuk memeras kami sudah berakhir," katanya.
Gelombang kebingungan juga melanda Jepang sebagai importir gasa alam Rusia terbesar di Asia. Tokyo Gas dan Osaka Gas, dua pemasok gas lokal terbesar di negara itu, menyatakan mereka sedang mempelajari rincian tentang persyaratan rubel, senada dengan pernyataan dari VNG Jerman dan pembeli Eropa lainnya.
Korea Selatan, importir LNG Rusia terbesar ketiga di Asia, berharap dapat melanjutkan impor. Komisi Jasa Keuangan Korea bahkan telah menyatakan akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memfasilitasi perdagangan.
Lihat Juga :