Badan Pangan Susun Skenario Cegah Lonjakan Harga Bahan Pokok
Selasa, 29 Maret 2022 - 11:12 WIB
loading...
Badan Ketahanan Pangan menyusun skenario sebagai upaya mengamankan distribusi barang pokok ke daerah yang mengalami kekurangan pasokan. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Badan Ketahanan Pangan akan menyediakan transportasi logistik untuk distribusi barang pokok ke daerah yang mengalami kekurangan pasokan. Hal ini dilakukan, agar distribusi merata di seluruh daerah Indonesia.
"Misalnya bawang merah. Dari catatan kami, di beberapa daerah seperti Bhima itu surplus tapi di wilayah Timur, Maluku, Papua, termasuk Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara, itu minus," terang Kepala Pusat Ketersediaan Pangan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan, Andriko Noto Susanto dalam diskusi virtual, Selasa (29/3/2022).
Baca Juga: Sengkarut Isu Minyak Goreng Belum Terlihat Ujungnya, Keluhan Terus Mengalir
"Skenario yang kita lakukan adalah bagaimana kita mendistribusi barang dari daerah surplus ke daerah minus, yakni dengan kami fasilitasi transportasi. Karena kenaikan harga itu biasanya dipicu oleh harga transportasi yang mahal jika jaraknya jauh," sambung Andriko.
Sehingga dengan demikian, diharapkan harga barang pokok di daerah surplus dengan daerah minus delta harganya tidak terlalu tinggi. Andriko mengaku, gejolak harga pangan menjadi indikator utama dalam masalah barang pokok. Oleh karena itu, pihaknya akan terus memantau secara detail.
"Misalnya bawang merah. Dari catatan kami, di beberapa daerah seperti Bhima itu surplus tapi di wilayah Timur, Maluku, Papua, termasuk Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara, itu minus," terang Kepala Pusat Ketersediaan Pangan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan, Andriko Noto Susanto dalam diskusi virtual, Selasa (29/3/2022).
Baca Juga: Sengkarut Isu Minyak Goreng Belum Terlihat Ujungnya, Keluhan Terus Mengalir
"Skenario yang kita lakukan adalah bagaimana kita mendistribusi barang dari daerah surplus ke daerah minus, yakni dengan kami fasilitasi transportasi. Karena kenaikan harga itu biasanya dipicu oleh harga transportasi yang mahal jika jaraknya jauh," sambung Andriko.
Sehingga dengan demikian, diharapkan harga barang pokok di daerah surplus dengan daerah minus delta harganya tidak terlalu tinggi. Andriko mengaku, gejolak harga pangan menjadi indikator utama dalam masalah barang pokok. Oleh karena itu, pihaknya akan terus memantau secara detail.
Lihat Juga :