Realistiskah Menghapus Batasan Defisit APBN 3%? Ini Jawaban Sri Mulyani
Kamis, 07 April 2022 - 15:40 WIB
loading...
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. FOTO/ANTARA
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkapkan alasan menghapus batasan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 3% maksimal tiga tahun menghadapi pandemi Covid-19. Upaya tersebut dalam upaya penanganan kesehatan hingga pemulihan ekonomi.
"Respons pertama pandemi dari sisi fiskal adalah menghapus batasan defisit maksimal 3% dari PDB yang telah diadopsi 15 tahun. Namun agar kita terus juga menjaga disiplin di sisi fiskal penghapusan batasan ini hanya diperbolehkan selama 3 tahun sesuai aturan undang-undang," kata Sri Mulyani di Forum Showcase Event on Sustainable Finance: Mobilizing Financial Resources for Post Covid-19 Economic Recovery, yang diselenggarakan secara daring pada Kamis (7/4/2022).
Baca Juga: Perdagangan Jawa Timur Defisit USD920 Juta Selama Januari-Februari 2022
Tak hanya itu, respons selanjutnya adalah melakukan refocusing anggaran. Menghadapi situasi pandemi yang masih penuh dengan ketidakpastian perlu ditekankan pentingnya fleksibilitas anggaran dalam mengakomodasi kebutuhan belanja negara terhadap penanganan Covid-19.
"Refocusing dimana kami dapat memindahkan pengeluaran pemerintah pusat dari pengeluaran non-kesehatan menjadi pengeluaran kesehatan, dari pengeluaran non-sosial menjadi pengeluaran jaring pengaman sosial, untuk menciptakan keamanan sekaligus prioritas," lanjutnya.
"Respons pertama pandemi dari sisi fiskal adalah menghapus batasan defisit maksimal 3% dari PDB yang telah diadopsi 15 tahun. Namun agar kita terus juga menjaga disiplin di sisi fiskal penghapusan batasan ini hanya diperbolehkan selama 3 tahun sesuai aturan undang-undang," kata Sri Mulyani di Forum Showcase Event on Sustainable Finance: Mobilizing Financial Resources for Post Covid-19 Economic Recovery, yang diselenggarakan secara daring pada Kamis (7/4/2022).
Baca Juga: Perdagangan Jawa Timur Defisit USD920 Juta Selama Januari-Februari 2022
Tak hanya itu, respons selanjutnya adalah melakukan refocusing anggaran. Menghadapi situasi pandemi yang masih penuh dengan ketidakpastian perlu ditekankan pentingnya fleksibilitas anggaran dalam mengakomodasi kebutuhan belanja negara terhadap penanganan Covid-19.
"Refocusing dimana kami dapat memindahkan pengeluaran pemerintah pusat dari pengeluaran non-kesehatan menjadi pengeluaran kesehatan, dari pengeluaran non-sosial menjadi pengeluaran jaring pengaman sosial, untuk menciptakan keamanan sekaligus prioritas," lanjutnya.
Lihat Juga :