Cita Rasa Minyak Sawit Indonesia: Dielu-elukan di Dalam Negeri, Dicaci di Eropa
Sabtu, 09 April 2022 - 21:45 WIB
loading...
A
A
A
36 tahun kemudian (2016) konsumsi minyak nabati Eropa mencapai 22 juta ton. Nah dengan berbagai kelebihannya, minyak sawit (CPO) berhasil menyalip konsumsi sejumlah minyak nabati lainnya. Formasi pun berubah menjadi RSO, CPO,SFO, dan SBO.
Impor Eropa atas minyak sawit terus mengalami peningkatan yang siginifikan. Jika di tahun 1980 impor Eropa atas CPO hanya sebesar 300 ribu ton, maka di tahun 2016 impor itu tumpah menjadi 6,5 juta ton.
Menariknya, CPO hanya bisa diimpor oleh Eropa. Sementara ketiga minyak nabati lainnya selain diimpor juga dihasilkan dari kawasan Eropa. Artinya, kehadiran minyak sawit di Eropa menjadi ancaman tersendiri bagi minyak nabati mereka. Makanya, pemerintah Indonesia menyebut penolakan CPO oleh Uni Eropa hanya urusan bisnis saja.
Terkait minyak sawit menjadi penyebab deforestasi besar-besaran, Indonesia menilai itu juga hanya akal-akalan Eropa. Pemerintah Indonesia mengungkap untuk dapat menghasilkan 1 ton minyak sawit, hanya dibutuhkan lahan sebesar 0,3 hektare. Sementara rapeseed oil butuh 1,3 hektare, dan soybean 2,2 hektare.
Eropa adalah Eropa. Negara-negara yang berada di benua ini punya kebersamaan yang kuat. Gerakan anti-minyak sawit Eropa berhasil mengeringkan ekspor CPO Indonesia. Ekspor CPO Indonesia ke Eropa tahun 2017 turun menjadi 5 juta ton, tahun 2018 turun lagi menjadi 4,8 juta ton, dan tahun 2019 tersisa 2 juta ton.
Eropa memang bukan pasar terbesar CPO Indonesia. India dan China-lah pembeli terbesar CPO Indonesia. Masalahnya, sebagai "kiblat" pemikirian dunia, kampanye Eropa dikhawtirkan bisa meluas ke negara-negara lain.
Makanya, Indonesia tak tinggal diam. Berbagai langkah diambil pemerintah Indonesia. Maret 2018 Presiden Joko Widodo mengutus Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan ke Eropa untuk menjernihkan kampanye hitam Eropa atas CPO.
Selama lawatannya Luhut membahas masalah sawit dengan pemerintah lima negara Eropa, mulai dari Inggris, Jerman, Belanda, Prancis, dan Belgia. Luhut pun menyempatkan diri menyaba Paus Fransiskus di Vatikan untuk meminta wejangan.
Tak cukup! Indonesia kemudian menerapkan strategi menyerang untuk mengtasi masalah CPO di Eropa. Langkah offensive Pemerintah Indonesia di antaranya dengan turut mempermasalahkan penggunaan minyak nabati dari jenis komoditas lain di pasar global, baik rapeseed, soybean, maupun sunflower.
Baca juga: Penyaluran BLT Minyak Goreng melalui Pos Indonesia
Indonesia pun kemudian membawa permasalahan CPO ke sidang World Trade Organization (WTO) pada Desmber 2019. Hingga kini persidangan ini masih terus berjalan. Indonesia pun optimistis memenangi gugatan ini. Jika menang di WTO maka akan menjadi pupuk bagi industri sawit nasional. Semoga!
Impor Eropa atas minyak sawit terus mengalami peningkatan yang siginifikan. Jika di tahun 1980 impor Eropa atas CPO hanya sebesar 300 ribu ton, maka di tahun 2016 impor itu tumpah menjadi 6,5 juta ton.
Menariknya, CPO hanya bisa diimpor oleh Eropa. Sementara ketiga minyak nabati lainnya selain diimpor juga dihasilkan dari kawasan Eropa. Artinya, kehadiran minyak sawit di Eropa menjadi ancaman tersendiri bagi minyak nabati mereka. Makanya, pemerintah Indonesia menyebut penolakan CPO oleh Uni Eropa hanya urusan bisnis saja.
Terkait minyak sawit menjadi penyebab deforestasi besar-besaran, Indonesia menilai itu juga hanya akal-akalan Eropa. Pemerintah Indonesia mengungkap untuk dapat menghasilkan 1 ton minyak sawit, hanya dibutuhkan lahan sebesar 0,3 hektare. Sementara rapeseed oil butuh 1,3 hektare, dan soybean 2,2 hektare.
Eropa adalah Eropa. Negara-negara yang berada di benua ini punya kebersamaan yang kuat. Gerakan anti-minyak sawit Eropa berhasil mengeringkan ekspor CPO Indonesia. Ekspor CPO Indonesia ke Eropa tahun 2017 turun menjadi 5 juta ton, tahun 2018 turun lagi menjadi 4,8 juta ton, dan tahun 2019 tersisa 2 juta ton.
Eropa memang bukan pasar terbesar CPO Indonesia. India dan China-lah pembeli terbesar CPO Indonesia. Masalahnya, sebagai "kiblat" pemikirian dunia, kampanye Eropa dikhawtirkan bisa meluas ke negara-negara lain.
Makanya, Indonesia tak tinggal diam. Berbagai langkah diambil pemerintah Indonesia. Maret 2018 Presiden Joko Widodo mengutus Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan ke Eropa untuk menjernihkan kampanye hitam Eropa atas CPO.
Selama lawatannya Luhut membahas masalah sawit dengan pemerintah lima negara Eropa, mulai dari Inggris, Jerman, Belanda, Prancis, dan Belgia. Luhut pun menyempatkan diri menyaba Paus Fransiskus di Vatikan untuk meminta wejangan.
Tak cukup! Indonesia kemudian menerapkan strategi menyerang untuk mengtasi masalah CPO di Eropa. Langkah offensive Pemerintah Indonesia di antaranya dengan turut mempermasalahkan penggunaan minyak nabati dari jenis komoditas lain di pasar global, baik rapeseed, soybean, maupun sunflower.
Baca juga: Penyaluran BLT Minyak Goreng melalui Pos Indonesia
Indonesia pun kemudian membawa permasalahan CPO ke sidang World Trade Organization (WTO) pada Desmber 2019. Hingga kini persidangan ini masih terus berjalan. Indonesia pun optimistis memenangi gugatan ini. Jika menang di WTO maka akan menjadi pupuk bagi industri sawit nasional. Semoga!
(uka)
Lihat Juga :