Kemenperin: Ekspor Industri Logam Dasar dan Makanan Jadi Andalan
Jum'at, 19 Juni 2020 - 11:41 WIB
loading...
A
A
A
Selama Januari-Mei 2020, nilai pengapalan industri makanan menembus angka USD11,4 miliar atau naik 8% dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar USD10,5 miliar. "Sesuai aspirasi roadmap Making Indonesia 4.0, kami menargetkan industri makanan dan minuman akan menjadi sektor yang mampu merajai di wilayah Asia Tenggara," ungkap Agus.
Sektor manufaktur lainnya yang memberikan kontribusi signifikan bagi perolehan nilai eskpor industri pengolahan nonmigas pada lima bulan pertama tahun ini, antara lain adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang mencatatkan nilai ekspornya sebesar USD4,9 miliar, kemudian diikuti oleh industri pakaian jadi USD2,8 miliar.
"Pada industri kimia, kami menargetkan sektor tersebut akan menjadi pemain terkemuka di industri biokimia. Sedangkan, untuk industri tekstil dan busana, pemerintah memfokuskan agar bisa menjadi produsen functional clothing terkemuka," paparnya.
Kelompok manufaktur berikutnya yang punya potensi pasar ekspor besar, yakni industri komputer, barang elektronik dan optik. Pada Januari-Mei 2020, nilai pengapalan dari sektor tersebut mampu tembus USD2,4 miliar atau naik sekitar 14% dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar USD2,1 miliar. Bagi industri elektronik, Menperin menyebut, pihaknya akan berfokus pada peningkatan kemampuan pelaku usaha di pasar domestik.
(Baca Juga: Gandeng Pelaku Bisnis, Kemendag Memetakan Peluang dan Tantangan Industri Mamin)
Selain itu, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, yang mencatatkan nilai ekspornya sebesar USD2,3 miliar pada Januari-Mei 2020 atau naik sekitar 4% dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar USD2,2 miliar. "Dengan serius mengembangkan sektor-sektor yang punya orientasi ekspor, kami optimistis Indonesia bisa menjadi bagian dari 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030," tegas Agus.
Sektor manufaktur lainnya yang memberikan kontribusi signifikan bagi perolehan nilai eskpor industri pengolahan nonmigas pada lima bulan pertama tahun ini, antara lain adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang mencatatkan nilai ekspornya sebesar USD4,9 miliar, kemudian diikuti oleh industri pakaian jadi USD2,8 miliar.
"Pada industri kimia, kami menargetkan sektor tersebut akan menjadi pemain terkemuka di industri biokimia. Sedangkan, untuk industri tekstil dan busana, pemerintah memfokuskan agar bisa menjadi produsen functional clothing terkemuka," paparnya.
Kelompok manufaktur berikutnya yang punya potensi pasar ekspor besar, yakni industri komputer, barang elektronik dan optik. Pada Januari-Mei 2020, nilai pengapalan dari sektor tersebut mampu tembus USD2,4 miliar atau naik sekitar 14% dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar USD2,1 miliar. Bagi industri elektronik, Menperin menyebut, pihaknya akan berfokus pada peningkatan kemampuan pelaku usaha di pasar domestik.
(Baca Juga: Gandeng Pelaku Bisnis, Kemendag Memetakan Peluang dan Tantangan Industri Mamin)
Selain itu, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, yang mencatatkan nilai ekspornya sebesar USD2,3 miliar pada Januari-Mei 2020 atau naik sekitar 4% dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar USD2,2 miliar. "Dengan serius mengembangkan sektor-sektor yang punya orientasi ekspor, kami optimistis Indonesia bisa menjadi bagian dari 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030," tegas Agus.
Lihat Juga :