Suarakan Isu Pengendalian di Surga Bisnis Bagi Industri Rokok
Kamis, 19 Mei 2022 - 23:15 WIB
loading...
A
A
A
Angka tersebut seiring dengan peningkatan prevalensi perokok muda usia 10-18 tahun dari 7,2% menjadi 9,1% tahun 2019. Peningkatan jumlah perokok ini membuat industri rokok berhasil meraup keuntungan besar dari penjualan rokok konvensional.
Sekretaris Jenderal IYCTC, Rama Tantra menyatakan anak muda tidak boleh berdiam diri melihat produk rokok yang dianggap normal di kalangan masyarakat khususnya anak muda sebagai calon korban.
“Sudah sangat jelas, industri rokok menargetkan anak muda melalui iklan promosi sponsor yang masif secara offline maupun online di internet agar kita tertarik (merokok). Selain itu sebenarnya, iklan promosi sponsorship adalah upaya manipulasi yang dilakukan industri rokok untuk menormalisasi produknya. Tidak bisa terus didiamkan,” ucapnya.
Terbaru masa kini industri rokok mulai memperkenalkan produk barunya yaitu rokok elektronik dengan dalih bebas asap dan sebagai produk baru yang dapat memberhentikan perokok konvensional. Namun, faktanya penelitian membuktikan bahwa kandungan bahan kimia dalam rokok elektrik berbahaya mengandung nikotin dan bahkan lebih berbahaya dibandingkan rokok konvensional (ExposeTobacco, 2020).
“Kami di Ambon, resah juga melihat teman-teman kami yang merokok biasa dengan juga nge-vape. Karna dorang so anggap biasa (merokok) itu. Mungkin juga karena mereka yang mau merokok itu mudah sekali beli rokok (rokok konvensional dan vape). Jadi akhirnya banyak yang merokok,” kata Fasilitator Fakota Jordan Vegard.
Selain itu tidak banyak diketahui dan disuarakan fakta bahwa dalam satu batang rokok menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan dan merusak ekosistem. Semua proses pembuatan rokok konvensional, mulai dari pembudidayaan, produksi, distribusi, dan limbah produk tembakau berkontribusi terhadap perubahan iklim dan mengurangi ketahanan iklim, dengan membuang-buang sumber daya dan merusak ekosistem (Environment Science and Technology American Chemical Society (ACS) 2018).
Sekretaris Jenderal IYCTC, Rama Tantra menyatakan anak muda tidak boleh berdiam diri melihat produk rokok yang dianggap normal di kalangan masyarakat khususnya anak muda sebagai calon korban.
“Sudah sangat jelas, industri rokok menargetkan anak muda melalui iklan promosi sponsor yang masif secara offline maupun online di internet agar kita tertarik (merokok). Selain itu sebenarnya, iklan promosi sponsorship adalah upaya manipulasi yang dilakukan industri rokok untuk menormalisasi produknya. Tidak bisa terus didiamkan,” ucapnya.
Terbaru masa kini industri rokok mulai memperkenalkan produk barunya yaitu rokok elektronik dengan dalih bebas asap dan sebagai produk baru yang dapat memberhentikan perokok konvensional. Namun, faktanya penelitian membuktikan bahwa kandungan bahan kimia dalam rokok elektrik berbahaya mengandung nikotin dan bahkan lebih berbahaya dibandingkan rokok konvensional (ExposeTobacco, 2020).
“Kami di Ambon, resah juga melihat teman-teman kami yang merokok biasa dengan juga nge-vape. Karna dorang so anggap biasa (merokok) itu. Mungkin juga karena mereka yang mau merokok itu mudah sekali beli rokok (rokok konvensional dan vape). Jadi akhirnya banyak yang merokok,” kata Fasilitator Fakota Jordan Vegard.
Selain itu tidak banyak diketahui dan disuarakan fakta bahwa dalam satu batang rokok menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan dan merusak ekosistem. Semua proses pembuatan rokok konvensional, mulai dari pembudidayaan, produksi, distribusi, dan limbah produk tembakau berkontribusi terhadap perubahan iklim dan mengurangi ketahanan iklim, dengan membuang-buang sumber daya dan merusak ekosistem (Environment Science and Technology American Chemical Society (ACS) 2018).
Lihat Juga :