Kemasan Plastik Sekali Pakai Jadi Hambatan Kejar Target Ekonomi Hijau
Kamis, 26 Mei 2022 - 23:58 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan data olahan dari Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (ASPADIN) dan lembaga riset AC Nielsen, produk AMDK menyumbang 328.117 ton dari 11,6 juta ton sampah plastik sepanjang tahun 2021. Enri berpendapat, kemasan galon isi ulang justru dapat menjadi solusi karena di Indonesia memang belum banyak tersedia infrastruktur air siap minum atau (tap drinkable water) seperti di
sejumlah negara-negara maju.
Dia mengatakan setiap kemasan memiliki keunggulan sendiri dari segi pertimbangan ketahanan, keamanan, maupun keramahan terhadap lingkungan, seperti kemampuan untuk digunakan kembali sehingga tidak menimbulkan limbah plastik yang mengancam lingkungan.
"Penting menjadi perhatian juga adalah bagaimana perlakukan kita terhadap kemasan plastik itu setelah kita konsumsi air minumnya," ujarnya.
Secara persentase, volume sampah plastik pada 2021 naik dua kali lipat dibandingkan dengan data 10 tahun terakhir. Hal inilah yang perlu diantisipasi oleh pemerintah dan segera direspons oleh pelaku usaha. Kasubdit Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah KLHK Ujang Solihin Sidik mengatakan kemasan guna ulang lebih baik dibandingkan sekali pakai untuk mencegah agar orang tidak mudah nyampah. Namun demikian dengan rencana pelabelan BPA akan menimbulkan pergeseran kebiasaan masyarakat dari penggunaan galon isi ulang ke galon sekali pakai.
"Dalam konteks pengelolaan sampah, betul, mungkin akan ada pergeseran dari konsumsi galon yang dipakai ulang ke galon sekali pakai, akan ada pengaruhnya," kata dia.
sejumlah negara-negara maju.
Dia mengatakan setiap kemasan memiliki keunggulan sendiri dari segi pertimbangan ketahanan, keamanan, maupun keramahan terhadap lingkungan, seperti kemampuan untuk digunakan kembali sehingga tidak menimbulkan limbah plastik yang mengancam lingkungan.
"Penting menjadi perhatian juga adalah bagaimana perlakukan kita terhadap kemasan plastik itu setelah kita konsumsi air minumnya," ujarnya.
Secara persentase, volume sampah plastik pada 2021 naik dua kali lipat dibandingkan dengan data 10 tahun terakhir. Hal inilah yang perlu diantisipasi oleh pemerintah dan segera direspons oleh pelaku usaha. Kasubdit Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah KLHK Ujang Solihin Sidik mengatakan kemasan guna ulang lebih baik dibandingkan sekali pakai untuk mencegah agar orang tidak mudah nyampah. Namun demikian dengan rencana pelabelan BPA akan menimbulkan pergeseran kebiasaan masyarakat dari penggunaan galon isi ulang ke galon sekali pakai.
"Dalam konteks pengelolaan sampah, betul, mungkin akan ada pergeseran dari konsumsi galon yang dipakai ulang ke galon sekali pakai, akan ada pengaruhnya," kata dia.
Lihat Juga :