Penggunaan Rokok Elektrik Bertanggung Jawab Butuh 2 Regulasi
Sabtu, 11 Juni 2022 - 19:10 WIB
loading...
A
A
A
Dalam webinar tersebut, General Manager RELX Indonesia, Yudhistira Eka Saputra menjelaskan, bagaimana perbedaan dari rokok tembakau dengan rokok elektrik. Pembakaran rokok tembakau membutuhkan suhu di atas 650 derajat celcius, dan pada saat pembakaran tercipta banyak bahan-bahan berbahaya yang selanjutnya dapat menimbulkan penyakit.
Sedangkan rokok elektrik, memakai suhu di bawah 650. Yudhi dari RELX menyatakan, bahwa produknya hanya menggunakan 220 derajat yang dinilai suhu paling tepat untuk mendapatkan sensasi merokok yang masih bisa dinikmati oleh para konsumennya.
“Setiap ada terobosan baru, pasti berhubungan dengan kualitas. Memasuki tahun keempat, RELX international sudah melakukan ekspansi yang luar biasa serta sudah menjadi market leader di dunia di luar China dan US, hal ini dikarenakan RELX berinvestasi yang masif dalam rangka menjamin dan memastikan bahwa produk yang dikeluarkan sudah memiliki standar dan kualitas yg baik,” tambah Yudhi
Dalam kesempatan webinar ini Dr, Drg. Amaliya, MSc. pun turut memberikan pandangannya terkait rokok elektrik yang dinilai sebagai produk alternatif bagi para perokok dewasa yang ingin beralih atau berhenti merokok.
“Ternyata tidak semua perokok bisa berhenti meski sudah ada warning atas risikonya, sehingga produk alternatif ini adalah sebuah solusi untuk beralih ke produk yang rendah resiko. Meskipun e-cigarette bukan bebas bahaya, namun dapat digunakan sebagai alternatif, hal ini juga berdasarkan riset dari Public Health England yang menyatakan bahwa rokok elektrik sudah 90% lebih aman dibanding rokok tembakau,” terang Amaliya.
Ketakutan masyarakat atas nikotin yang seringkali disebutkan sebagai penyebab kanker yang juga terkandung di dalam rokok elektrik disanggah oleh Drg. Amaliya, “Nikotin bukan penyebab kanker, tapi memang menyebabkan adiksi. Namun jika overdosis pun akan berbahaya, maka sebaiknya tetap harus berhati-hati dalam pengkonsumsiannya,” lanjutnya.
Sedangkan rokok elektrik, memakai suhu di bawah 650. Yudhi dari RELX menyatakan, bahwa produknya hanya menggunakan 220 derajat yang dinilai suhu paling tepat untuk mendapatkan sensasi merokok yang masih bisa dinikmati oleh para konsumennya.
“Setiap ada terobosan baru, pasti berhubungan dengan kualitas. Memasuki tahun keempat, RELX international sudah melakukan ekspansi yang luar biasa serta sudah menjadi market leader di dunia di luar China dan US, hal ini dikarenakan RELX berinvestasi yang masif dalam rangka menjamin dan memastikan bahwa produk yang dikeluarkan sudah memiliki standar dan kualitas yg baik,” tambah Yudhi
Dalam kesempatan webinar ini Dr, Drg. Amaliya, MSc. pun turut memberikan pandangannya terkait rokok elektrik yang dinilai sebagai produk alternatif bagi para perokok dewasa yang ingin beralih atau berhenti merokok.
“Ternyata tidak semua perokok bisa berhenti meski sudah ada warning atas risikonya, sehingga produk alternatif ini adalah sebuah solusi untuk beralih ke produk yang rendah resiko. Meskipun e-cigarette bukan bebas bahaya, namun dapat digunakan sebagai alternatif, hal ini juga berdasarkan riset dari Public Health England yang menyatakan bahwa rokok elektrik sudah 90% lebih aman dibanding rokok tembakau,” terang Amaliya.
Ketakutan masyarakat atas nikotin yang seringkali disebutkan sebagai penyebab kanker yang juga terkandung di dalam rokok elektrik disanggah oleh Drg. Amaliya, “Nikotin bukan penyebab kanker, tapi memang menyebabkan adiksi. Namun jika overdosis pun akan berbahaya, maka sebaiknya tetap harus berhati-hati dalam pengkonsumsiannya,” lanjutnya.
Lihat Juga :