Mirisnya Sri Lanka, Bensin Habis Mau Impor Nggak Punya Duit
Kamis, 23 Juni 2022 - 12:54 WIB
loading...
Sri Lanka krisis bahan bakar minyak. FOTO/REUTERS
A
A
A
JAKARTA - Perekonomian Sri Lanka runtuh akibat diterpa masalah utang. Bailout International Monetary Fund (IMF) jalan satu-satunya agar negara tersebut kembali pulih. Demikian disampaikan oleh Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe kepada parlemen pada Rabu (22/6),
"Kami sekarang menghadapi situasi yang jauh lebih serius, lebih dari sekedar kekurangan bahan bakar, listrik, gas, dan makanan. Kami bahkan tidak bisa membeli bahan bakar impor, bahkan untuk uang tunai, akibat beratnya utang yang ditanggung oleh perusahaan petroleum kami, dan kami mulai melihat tanda-tanda kejatuhan ke titik terendah," ujar Wickremesinghe.
Baca Juga: Negaranya Bangkrut, Ribuan Warga Tinggalkan Sri Lanka
Analisa yang suram ini menyeruak ketika pihak berwenang melakukan perbincangan dengan pemberi pinjaman yang berbasis di Washington terkait kesepakatan dana segar untuk negara yang bangkrut ini. Sri Lanka membutuhkan USD6 miliar dalam beberapa bulan mendatang untuk menopang cadangannya, membayar tagihan impor yang membengkak dan menstabilkan mata uangnya.
Sebelumnya, Sri Lanka telah menyelesaikan diskusi awal dengan IMF, dan bertukar pikiran tentang keuangan publik, keberlanjutan utang, sektor perbankan dan jaminan sosial, "Kami bermaksud untuk masuk ke dalam kesepakatan tingkat resmi dengan IMF pada akhir Juli," tambah Wickremesinghe.
"Kami sekarang menghadapi situasi yang jauh lebih serius, lebih dari sekedar kekurangan bahan bakar, listrik, gas, dan makanan. Kami bahkan tidak bisa membeli bahan bakar impor, bahkan untuk uang tunai, akibat beratnya utang yang ditanggung oleh perusahaan petroleum kami, dan kami mulai melihat tanda-tanda kejatuhan ke titik terendah," ujar Wickremesinghe.
Baca Juga: Negaranya Bangkrut, Ribuan Warga Tinggalkan Sri Lanka
Analisa yang suram ini menyeruak ketika pihak berwenang melakukan perbincangan dengan pemberi pinjaman yang berbasis di Washington terkait kesepakatan dana segar untuk negara yang bangkrut ini. Sri Lanka membutuhkan USD6 miliar dalam beberapa bulan mendatang untuk menopang cadangannya, membayar tagihan impor yang membengkak dan menstabilkan mata uangnya.
Sebelumnya, Sri Lanka telah menyelesaikan diskusi awal dengan IMF, dan bertukar pikiran tentang keuangan publik, keberlanjutan utang, sektor perbankan dan jaminan sosial, "Kami bermaksud untuk masuk ke dalam kesepakatan tingkat resmi dengan IMF pada akhir Juli," tambah Wickremesinghe.
Lihat Juga :