Riset Membuktikan: Ada Mutualisme antara Listrik dengan Ekspor
Kamis, 23 Juni 2022 - 18:58 WIB
loading...
Ada hubungan yang saling berpengaruh antara permintaan listrik dengan peningkatan ekspor. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara ( PLN ) (Persero) melakukan riset bersama/joint research dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia ( LPEI ) mengenai dampak konsumsi listrik terhadap nilai ekspor dan pemetaan wilayah prioritas sektoral. Kajian bersama ini sebagai tindak lanjut dari penandatanganan kerja sama yang telah dilakukan kedua belah pihak pada 25 Agustus 2021 di Jakarta.
Baca juga: Capai USD146 Juta, Ekspor Kain Indonesia Tumbuh 14% Lebih
Tujuan dari riset bersama ini adalah untuk memetakan dan menghitung kebutuhan kapasitas listrik wilayah yang memproduksi suatu produk berorientasi ekspor, terutama produk yang berasal dari sektor bernilai tambah seperti 1) makanan dan minuman, 2) kayu dan furnitur, 3) pulp dan kertas, 4) tekstil dan produk tekstil, 5) otomotif, 6) alat mekanik dan listrik dan 7) alas kaki.
Berdasarkan riset atas 827 sampel perusahaan (data konsumsi listrik dan ekspor dari perusahaan eksportir di Indonesia) dalam kurun waktu Februari 2019 hingga September 2021, maka diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara konsumsi listrik dengan nilai ekspor Indonesia dari ketujuh sektor bernilai tambah.
“Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa konsumsi listrik dan nilai ekspor sektoral memiliki hubungan dua arah yang signifikan dan saling memengaruhi. Peningkatan konsumsi listrik sebagai salah satu input produksi secara langsung dapat meningkatkan nilai ekspor. Di sisi lain, ketika terjadi peningkatan permintaan global, maka nilai ekspor akan meningkat, sehingga turut mengungkit permintaan konsumsi listrik,” kata Kepala Divisi Indonesia Eximbank Institute (IEB Institute) LPEI, Rini Satriani, Kamis (23/6/2022).
Lebih lanjut, Rini Satriani menuturkan bahwa konsumsi listrik memiliki dampak berupa nilai elastisitas yang positif terhadap peningkatan nilai ekspor Indonesia di tingkat sektoral dan wilayah. Beberapa wilayah di Indonesia bahkan memiliki nilai elastisitas di atas satu (>1) terhadap nilai ekspor sektoral, yang artinya bahwa setiap penambahan konsumsi listrik dapat mendorong peningkatan nilai ekspor suatu wilayah/sektoral.
Baca juga: Capai USD146 Juta, Ekspor Kain Indonesia Tumbuh 14% Lebih
Tujuan dari riset bersama ini adalah untuk memetakan dan menghitung kebutuhan kapasitas listrik wilayah yang memproduksi suatu produk berorientasi ekspor, terutama produk yang berasal dari sektor bernilai tambah seperti 1) makanan dan minuman, 2) kayu dan furnitur, 3) pulp dan kertas, 4) tekstil dan produk tekstil, 5) otomotif, 6) alat mekanik dan listrik dan 7) alas kaki.
Berdasarkan riset atas 827 sampel perusahaan (data konsumsi listrik dan ekspor dari perusahaan eksportir di Indonesia) dalam kurun waktu Februari 2019 hingga September 2021, maka diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara konsumsi listrik dengan nilai ekspor Indonesia dari ketujuh sektor bernilai tambah.
“Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa konsumsi listrik dan nilai ekspor sektoral memiliki hubungan dua arah yang signifikan dan saling memengaruhi. Peningkatan konsumsi listrik sebagai salah satu input produksi secara langsung dapat meningkatkan nilai ekspor. Di sisi lain, ketika terjadi peningkatan permintaan global, maka nilai ekspor akan meningkat, sehingga turut mengungkit permintaan konsumsi listrik,” kata Kepala Divisi Indonesia Eximbank Institute (IEB Institute) LPEI, Rini Satriani, Kamis (23/6/2022).
Lebih lanjut, Rini Satriani menuturkan bahwa konsumsi listrik memiliki dampak berupa nilai elastisitas yang positif terhadap peningkatan nilai ekspor Indonesia di tingkat sektoral dan wilayah. Beberapa wilayah di Indonesia bahkan memiliki nilai elastisitas di atas satu (>1) terhadap nilai ekspor sektoral, yang artinya bahwa setiap penambahan konsumsi listrik dapat mendorong peningkatan nilai ekspor suatu wilayah/sektoral.
Lihat Juga :