Rusia Resmi Gagal Bayar Utang, Apa Dampaknya untuk Indonesia?

Selasa, 28 Juni 2022 - 22:42 WIB
loading...
Rusia Resmi Gagal Bayar...
Rusia mengalami gagal bayar (default) atas utang luar negeri setelah melewati masa tenggang yakni 1 bulan setelah jatuh tempo pada 27 Mei 2022. Lantas bagaimana dampaknya bagi Indonesia?. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Rusia mengalami gagal bayar (default) atas utang luar negeri setelah melewati masa tenggang yakni 1 bulan setelah jatuh tempo pada 27 Mei 2022. Hal itu menunjukkan bahwa Rusia mungkin memasuki default utang luar negeri pertama sejak 1918.

Baca Juga: Rusia Gagal Bayar Utang untuk Pertama Kalinya sejak 1998

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core), Mohammad Faisal menyampaikan, bahwa gagal bayar Rusia tidak akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia . Karena dari sisi hubungan perdagangan, maupun dari sisi pasar uang atau pasar modal jumlahnya kecil.

"Kalau perdagangan kita terbesar China kemudian Amerika dan beberapa negara tradisional market yang lain, Rusia tidak masuk yang dalam top 13," ungkapnya kepada MPI, Selasa (28/6/2022).

Ia menambahkan, dari sisi pasar modal atau pengaruh dari sisi sektor keuangan Indonesia terpengaruh sekali dengan kebijakan Amerika, tapi dengan Rusia sangat kecil.

"Jadi kalau Rusia gagal bayar untuk pinjaman luar negeri saya rasa tidak signifikan, hanya saja mungkin dari sisi bahwa kalau mereka gagal bayar berarti kan dari sisi demand global turun karena Rusia sebagai salah satu negara G20. Jadi artinya posisi perekonomiannya sebetulnya cukup signifikan terhadap global, jadi menurunkan demand global," jelasnya.

Baca Juga: Ekonomi Rusia di Ambang Kehancuran? Proyeksi Resmi Pemerintah Bocor

Ia menyampaikan, Rusia jadi salah satu penyumbang perlambatan ekonomi pada tahun ini dan juga kemungkinan besar tahun depan. Karena yang dikhawatirkan sekarang adalah terjadinya resesi yang terutama dipicu inflasi yang parah di Amerika.

Kemudian juga di Eropa, yang mana itu dicirikan oleh pertumbuhan ekonomi yang kontraksi atau paling tidak sangat lamban dan inflasi yang sangat tinggi.

"Nah kalau Rusia gagal bayar berarti kan pertumbuhan ekonominya akan turun drastis, sebagai akibat dari konflik juga sebetulnya. Jadi kontraksinya akan tinggi, pertumbuhan ekonominya akan terkontraksi dan ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global yang artinya juga akan menurunkan permintaan dari Rusia untuk barang-barang ekspor Indonesia," paparnya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Istana Buka Suara soal...
Istana Buka Suara soal Variabel Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000: Singgung Kemandirian Ekonomi
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Rekomendasi
Sidang Tuntutan Dalang...
Sidang Tuntutan Dalang Pembunuhan Kacab Bank Ditunda
Sony Sonjaya Diperiksa...
Sony Sonjaya Diperiksa Kejagung 9 Jam, Daftar Nama terkait Jual Beli Titik SPPG Bertambah Jadi 41 Orang
Kejagung Ungkap Peran...
Kejagung Ungkap Peran Glory Harimas Sihombing di Kasus Korupsi MBG: Jual Titik SPPG
Berita Terkini
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
Infografis
3 Negara Mayoritas Islam...
3 Negara Mayoritas Islam Terjebak Utang China, Indonesia Tembus Rp326 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved