Digitalisasi Merek, Strategi Bertahan di Era New Normal
Kamis, 25 Juni 2020 - 22:40 WIB
loading...
Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Mau tidak mau, pandemi Corona yang menyerang republik ini membuat dunia usaha putar otak agar bisnisnya bisa tetap berjalan. Pandemi yang membatasi aktivitas kehidupan, akhirnya membuat masyarakat menyadari betul pentingnya digitalisasi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kondisi itulah yang ditangkap para pelaku usaha dengan mengembangkan sistem digitalisasi perusahaan mereka. Pasalnya, kini masyarakat mulai beralih ke sistem online untuk melakukan pembelian produk keseharian ataupun produk jasa keuangan.
Konsultan riset dan pengembangan merek (bran), Tras N Co mengungkapkan data bahwa selama pandemi, sebanyak 81,7% transaksi pembelian barang dan jasa dilakukan secara online. Trend itu diprediksi akan terus berlangsung pada era tatanan kehidupan baru (New Normal).
“Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan ketika pandemi Covid-19, konsumen yang banyak menghabiskan waktu di rumah lebih nyaman melakukan pembelian produk secara online. Ini membuat sejumlah produk yang telah memiliki bran kuat secara digital menikmati pertumbuhan penjualan sigifikan,” jelas Tri Raharjo, Chief Executive Officer (CEO) TRAS N CO Indonesia, sekaligus penggagas Indonesia Digital Popular Brand Award 2020, dalam Online Press Conference yang digelar secara virtual pada Kamis (25/6).
Herwinda Yoga, Brand Manager PT Campina, mengatakan bahwa peningkatan penjualan secara daring dialami perusahaannya. Penjualan daring es krim Campina meroket hingga 500%, sedangkan penjualan secara offline justru terkapar. Kondisi senada diungkapkan Manager Digital PT Kimia Farma Tbk Tri Tunggal Haryanti, revenue produk kosmetik Kimia Farma naik melalui transaksi online.
“Transformasi digital telah kami lakukan sejak dua tahun lalu dengan mengotimalisasi penjualan 1.300 gerai Kimia Farma lewat online," kata Tri Tunggal. (B aca:Penjualan Menurun, Pemasaran Digital Solusi New Normal Industri Properti )
Nah jika perusahaan ingin memenangkan pertarungan di ranah digital, mau tak mau, mereka harus memperkuat bran mereka di dunia itu. Jika tidak, alamat terlindas. “Penerapan branding yang tepat dapat memenangi kompetisi di tengah persaingan gelombang digitalisasi,” jelas Tri Raharjo.
Kondisi itulah yang ditangkap para pelaku usaha dengan mengembangkan sistem digitalisasi perusahaan mereka. Pasalnya, kini masyarakat mulai beralih ke sistem online untuk melakukan pembelian produk keseharian ataupun produk jasa keuangan.
Konsultan riset dan pengembangan merek (bran), Tras N Co mengungkapkan data bahwa selama pandemi, sebanyak 81,7% transaksi pembelian barang dan jasa dilakukan secara online. Trend itu diprediksi akan terus berlangsung pada era tatanan kehidupan baru (New Normal).
“Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan ketika pandemi Covid-19, konsumen yang banyak menghabiskan waktu di rumah lebih nyaman melakukan pembelian produk secara online. Ini membuat sejumlah produk yang telah memiliki bran kuat secara digital menikmati pertumbuhan penjualan sigifikan,” jelas Tri Raharjo, Chief Executive Officer (CEO) TRAS N CO Indonesia, sekaligus penggagas Indonesia Digital Popular Brand Award 2020, dalam Online Press Conference yang digelar secara virtual pada Kamis (25/6).
Herwinda Yoga, Brand Manager PT Campina, mengatakan bahwa peningkatan penjualan secara daring dialami perusahaannya. Penjualan daring es krim Campina meroket hingga 500%, sedangkan penjualan secara offline justru terkapar. Kondisi senada diungkapkan Manager Digital PT Kimia Farma Tbk Tri Tunggal Haryanti, revenue produk kosmetik Kimia Farma naik melalui transaksi online.
“Transformasi digital telah kami lakukan sejak dua tahun lalu dengan mengotimalisasi penjualan 1.300 gerai Kimia Farma lewat online," kata Tri Tunggal. (B aca:Penjualan Menurun, Pemasaran Digital Solusi New Normal Industri Properti )
Nah jika perusahaan ingin memenangkan pertarungan di ranah digital, mau tak mau, mereka harus memperkuat bran mereka di dunia itu. Jika tidak, alamat terlindas. “Penerapan branding yang tepat dapat memenangi kompetisi di tengah persaingan gelombang digitalisasi,” jelas Tri Raharjo.
Lihat Juga :