Dilema BBM Subsidi, Bakalan Jebol Bila Tak Dibatasi
Rabu, 13 Juli 2022 - 11:35 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Langka! Cuma 5 Jenderal TNI yang Punya Brevet Kopassus dan Denjaka
Terpisah, pengamat ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti mengatakan, apabila pemerintah masih menganggarkan subsidi, artinya pemerintah siap dengan beban APBN yang akan semakin besar. "Jika saya lihat, pemerintah dan DPR masih tetap akan mempertahankan subsidi BBM untuk menjaga konsumsi dan dan popularitas politik hingga pemerintah Jokowi berakhir," katanya.
Yayan menilai pemerintah sangat mementingkan stabilitas. Karena itu, kalau pun ekonomi terganggu, model subsidi ini menurutnya akan selalu dijaga oleh pemerintah. Akan tetapi, lanjut Yayan, kebijakan mempertahankan subsidi harus dikombinasikan dengan kebijakan moneter dari BI yang juga harus menjaga nilai tukar dan inflasi.
"Saya kira mempertahankan konsumsi (kontribusi konsumsi 50-55% dari PDB) saat ini lebih baik dari pada turun karena jika turun produktivitas akan turun," ujarnya.
Namun, imbuh Yayan, mengacu pada harga keekonomian Pertamax yang di kisaran Rp18.000-19.000 dan Pertalite di Rp16.000- 17.000 per liter, beban subsidi saat ini berat. Terlebih nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini mencapai Rp15.000.
Terpisah, pengamat ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti mengatakan, apabila pemerintah masih menganggarkan subsidi, artinya pemerintah siap dengan beban APBN yang akan semakin besar. "Jika saya lihat, pemerintah dan DPR masih tetap akan mempertahankan subsidi BBM untuk menjaga konsumsi dan dan popularitas politik hingga pemerintah Jokowi berakhir," katanya.
Yayan menilai pemerintah sangat mementingkan stabilitas. Karena itu, kalau pun ekonomi terganggu, model subsidi ini menurutnya akan selalu dijaga oleh pemerintah. Akan tetapi, lanjut Yayan, kebijakan mempertahankan subsidi harus dikombinasikan dengan kebijakan moneter dari BI yang juga harus menjaga nilai tukar dan inflasi.
"Saya kira mempertahankan konsumsi (kontribusi konsumsi 50-55% dari PDB) saat ini lebih baik dari pada turun karena jika turun produktivitas akan turun," ujarnya.
Namun, imbuh Yayan, mengacu pada harga keekonomian Pertamax yang di kisaran Rp18.000-19.000 dan Pertalite di Rp16.000- 17.000 per liter, beban subsidi saat ini berat. Terlebih nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini mencapai Rp15.000.
(fai)
Lihat Juga :